AKTUALISASI
NILAI-NILAI AL-QUR’AN DALAM MEMPERKOKOH MENTAL SPRITUAL BERBANGSA DAN BERNEGARA
Oleh:
SUHARTO,
S.HI, M.Pd.I
(
Penyuluh Agama Islam Fungsional Kec. Pakuniran )
PENDAHULUAN
Setiap
manusia yang beriman sungguh yakin bahwa mereka adalah zuriyat Nabi Adam
‘Alahis Salam. Hakikat ini tidak dapat diingkari sebab ia tertera di dalam
Al-Quran :
Kami
berfirman : Turunlah kamu semuanya dari syurga itu! Kemudian jika datang
petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya
tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati”.
(Al-Baqarah : 38)
Menurut
Imam Ibnu Katsir [1] : Allah SWT menegaskan dalam ayat di atas bahwa Dia telah
mengusir Iblis, Adam dan Hawa dari syurga, lalu mereka diturunkan ke bumi.
Kepada mereka didatangkan petunjuk dengan maksud para Rasul dan Kitab-Kitab
dari langit silih berganti. Menurut Muqatil bin Hayyan : Petunjuk dengan maksud
Nabi Muhammad SAW dan menurut Al-Hasan pula petunjuk dengan maksud Al-Quran.
Kedua-dua pendapat tersebut sahih. Barangsiapa mengikuti Nabi Muhammad SAW dan
Al-Quran maka mereka tidak perlu takut menghadapi Hari Akhirat, dan mereka
tidak perlu bersedih hati terhadap dunia yang mereka tinggalkan.
Allah
SWT menyatakan bahwa tujuan Dia menciptakan jin dan manusia agar mereka
mengabdikan dirinya kepada Allah. Firman-Nya:
Dan
Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi
kepada-Ku. (Al-dzaariyat : 56 )
Allah
yang Maha Adil lagi Maha Bijaksana tidak akan membiarkan makhluk-Nya, khususnya
manusia supaya mencari jalan sendiri untuk menjalankan tugasnya sebagai
Khalifah Allah di atas muka bumi. Dia telah menurunkan petunjuk-Nya agar
dijadikan panduan atau pedoman. Dan bagi umat akhir zaman tentu saja maksud
petunjuk itu ialah Nabi Muhammad SAW dan Al-Quran.
Allah
SWT memerintahkan orang-orang yang beriman agar memasuki Islam secara
menyeluruh dan melarang mereka mengikuti Syaitan. Firman-Nya:
Hai
orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan
janganlah kamu turuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh
yang nyata bagimu. (Al-Baqarah : 208)
Syed
Qutub RH berkata [2] : Dalam ayat di atas Allah memanggil orang-orang yang
beriman agar memasuki Islam secara menyeluruh dan pada masa yang sama melarang
mereka mengikuti jejak langkah syaitan. Ini memberi isyarat bahwa jalan
terbentang dihadapan manusia di bumi ini hanya dua jalan saja, iaitu Jalan
Islam dan Jalan Syaitan.
Perkataan
Syaitan berasal dari perkataan “syathana” yang artinya “ba’uda”
iaitu “jauh”. Oleh itu, menurut ulama Aqidah makna Syaitan : Ba’iidun
‘An Al-Haq : Segala yang ingin menjauhkan manusia dari kebenaran.
Sedangkan Al-Haq pula segala yang datang dari Allah SWT. Ini sebagaimana firman
Allah:
Kebenaran
(Al-Haq) itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk
orang-orang yang ragu. (Al-Baqarah : 147)
- KEWAJIBAN UMAT ISLAM TERHADAP
AL-QURAN:
Tujuan
utama Al-Quran diturunkan oleh Allah adalah untuk dijadikan petunjuk. Ini
sebagaimana dinyatakan oleh Allah di dalam firman-Nya :
(beberapa
hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya
diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan
penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan
yang bathil). (Al-Baqarah : 185)
Dr.
Ahmad Asrar di dalam kitabnya berkata [3] : Ada lima kewajiban umat Islam
terhadap Al-Quran, iaitu :
- ( الإِيْمَانُ بِهِ ) : Beriman
kepada Al-Quran
- ( تِلَاوَتُـُهُ ) : Membaca
Al-Quran.
- ( الفَهْمُ بِهِ ) : Memahami
Al-Quran.
- ( العَمَلُ بِهِ ) :
Mengamalkannya.
- ( تَبْلِيْغُهُ إِلَى
الآخَرِيْنَ ) : Menyampaikannya kepada orang lain.
Sungguh
tepat pandangan di atas. Al-Quran diturunkan oleh Allah bukan hanya untuk
dibaca atau dilagukan tetapi lebih dari itu untuk dijadikan pedoman. Dan adalah
mustahil Al-Quran dapat dijadikan pedoman atau panduan tanpa terlebih dahulu
difahami maknanya.
Dr.
Ahmad Asrar menambahkan dalam kitabnya yang sama : Menurut bahasa walaupun
makna “Tilawah” sama dengan makna “Qira-ah”, namun sebenarnya
makna “Tilawah” lebih mendalam dari makna “Qira-ah”. Maksudnya
:Jika kita membaca sesuatu, lalu si pembaca mempunyai pilihan, apakah dia ingin
mempercayai atau tidak mempercayai apa yang dibacanya, apakah dia ingin
mematuhi suruhan dan larangan apa yang dibacanya, maka itu namanya “Qira-ah”.
Contohnya seperti membaca : Surah Kabar (Koran), Majalah dan lain. Tetapi jika
seseorang membaca sesuatu, lalu dia tidak mempunyai pilihan terhadap apa yang
dibacanya, dia mesti laksanakan jika suruhan, dan dia mesti jauhi terhadap
larangannya, maka itu namanya “Tilawah”. Atas sebab itulah maka istilah “Tilawah”
hanya khusus untuk Al-Quran. Itulah sebabnya di dalam Al-Quran sungguh banyak
suruhan membaca Al-Quran dengan menggunakan ungkapan “Utlu”, iaitu bentuk
perintah dari kata dasar “Tilawah”, contohnya:
Dan
bacalah apa yang diwahyukan kepadamu, iaitu Kitab Tuhanmu (Al Quran). Tidak ada
(seorangpun) yang dapat merobah Kalimat-Kalimat-Nya. (Al-Kahfi : 27)
Para
Mufassirin mengartikan “Tilawah” dengan “Ittibaa'”, iaitu mengikuti. Jadi
maksud ayat di atas : [4] Ikutilah apa yang telah diwahyukan
kepadamu, iaitu dengan mengetahui dan memahami maknanya, membenarkan
perkhabarannya, melaksanakan suruhannya dan menjauhi larangannya.
- BACALAH AL-QURAN :
Ayat
pertama diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW adalah lima ayat pertama dari Surah
al-‘Alaq :
Bacalah
dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia telah menciptakan manusia
dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, Yang mengajar
(manusia) dengan perantaran Qalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak
diketahuinya. (Al-‘Alaq: 1-5)
Syeikh
Al-Maraghiy berkata [5] : Maksud “Iqra'” disini ( اِفْعَلْ مَا أُمِرْتَ
بِهِ مِنَ القِرَاءَةِ ) : Lakukanlah apa saja yang kamu diperintahkan dari
bacaan itu.
Sebahagian
Mufassirin menegaskan bahwa kitab yang mesti dibaca oleh setiap manusia di
dalam ayat di atas, ada dua jenis kitab, iaitu :
- ( كِتَابٌ مُنَزَّلٌ ) : Kitab
yang diturunkan. Al-Quran kitab yang diturunkan untuk menjadi panduan
bagi umat akhir zaman. Membaca kitab jenis ini dengan maksud membacanya,
memahami, merenung, mengambil pengajaran dan mengamalkannya.
- ( كِتَابٌ مَخْلُوْقٌ ) : Kitab
yang diciptakan Allah. Segala ciptaan Allah, apakah alam binatang,
alam tumbuh-tumbuhan, bulan, bintang, dasar laut, perut bumi. Membaca
kitab makhluk dengan maksud “research”, membuat kajian, dan penyelidikan.
Allah
‘Azza Wa Jalla Maha Mengetahui tentang kemaslahatan manusia sebab Dia-lah
mencipta mereka. Maka sewajarnya manusia membaca “Kitab Munazzal” lebih
dahulu sebelum mereka membaca “Kitab Makhluk”. Segala panduan untuk
kebaikan manusia tertera dengan lengkap di dalam Al-Quran. Segala suruhan yang
termaktub dalam al-Quran mesti membawa kebaikan, sedangkan sebaliknya segala
larangannya pasti membawa keburukan jika dilanggar. Allah SWT sebagai Pencipta manusia
mengetahui segala-galanya.
Sebaliknya
jika manusia justeru lebih dahulu membaca dan mendalami “Kitab Makhluk”,
sedangkan “Kitab Munazzal” pula diabaikan. Atau jika manusia berinteraksi
dengan “Kitab Munazzal” hanya dalam bidang bacaan, walaupun dilagukan dengan
suara yang merdu, tetapi tidak memahami maksud kandungannya, maka tidak
mustahil mereka akan sesat dari kebenaran.
Sebagai
contoh : Berapa banyak manusia, hatta dari kalangan umat Islam yang menyokong “Teori
Evolusi” ciptaan Darwin yang kononnya manusia berasal dari monyet,
padahal di dalam al-Quran begitu jelas Yang Maha Pencipta menegaskan bahawa
manusia berasal dari Adam dan Adam pula dicipta dari tanah, dan selanjutnya
zuriyatnya dicipta dari nutfah (sperma), kemudian menjadi ‘alaqah
(segumpal darah) dan kemudian menjadi mudhghah (segumpal daging).
Allah
SWT berfirman :
Hai
manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka
(ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari
setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang
sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu
dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah
ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, (Al-Hajj : 5)
Inilah
akibatnya apabila manusia lebih menumpukan kajiannya kepada Kitab Makhluk
tetapi jahil terhadap Kitab Munazzal. Dan akhirnya mereka terjerumus di
dalam kesesatan.
Sikap
mengabaikan Al-Quran pernah menjadi kebimbangan Rasulullah SAW sehingga Baginda
SAW mengadu kepada Allah sebagaimana tercantum di dalam al-Quran:
Berkatalah
Rasul: “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Quran itu sesuatu yang
tidak diacuhkan”. (Al-Furqan : 30)
Imam Ibnu Kathir berkata [6] : Dalam
ayat ini Nabi Muhammad SAW mengadu kepada Allah SWT tentang sikap kaumnya yang
enggan memberi keutamaan kepada Al-Quran. Mereka enggan mendengarnya, enggan
memahami kandungannya, enggan melaksanakan kandungannya di dalam kehidupan
sehari-hari.
Imam
Ibnu Al-Qayyim berkata [7] : “Hajr al-Quran” iaitu mengabaikan al-Quran
atau tidak mengacuhkan al-Quran mempunyai beberapa maksud, iaitu :
- Tidak mau mendengar al-Quran
dan enggan beriman dengannya.
- Enggan mengamalkannya, walaupun
bagus bacaannya dan beriman kepadanya.
- Enggan menjadikannya sebagai
sumber hukum.
- Enggan memahami dan tadabbur
kandungannya.
- Enggan menjadikannya sebagai
penawar bagi segala penyakit hati.
Semua
jenis keengganan di atas termasuk ke dalam “Hajr al-Quran” atau tidak
mengacuhkan Al-Quran, walaupun sebahagian keengganan itu lebih ringan
dibandingkan dengan sebahagian keengganan yang lain.
- BENTUK-BENTUK PENGABAIAN
AL-QURAN :
Jika
kita teliti secara sadar atau tidak, gejala pengabaian terhadap al-Quran
sungguh banyak dilakukan oleh umat Islam dalam semua peringkat, antaranya :
- Golongan Masyarakat Umum.
Kita
sudah biasa menyaksikan bagaimana al-Quran sekedar disimpan di dalam almari
atau disusun dalam perpustakaan peribadi tanpa dibaca. Dan kalaupun dibaca dan
dilagukan, tetapi tidak dikaji isi kandungannya atau diamalkan dalam reliti
kehidupan.
- Golongan Intelektual Muslim.
Kita
dapat saksikan bagaimana isi al-Quran disampaikan kepada umat secara selektif
dan bergantung kepada apa yang telah ditetapkan oleh pihak pemerintah. Ia
disempitkan hanya berkisar tentang masalah yang berkaitan akidah, ibadat,
ahklak dan perkara-perkara yang berkaitan dengan “ruhiyah” yang berkaitan
dengan dalaman dan hati. Mereka hanya memandang al-Quran sebagai kitab suci
yang perlu dijaga fisikalnya, tetapi pada masa yang sama mereka membelakangi
segala hukum hakam bernegara yang telah diperintahkan oleh Allah SWT seperti
ayat-ayat berkaitan hudud, qisas dan lain-lain.
- Golongan Penguasa.
Pengabaikan
golongan ini terhadap al-Quran adalah lebih ketara lagi. Al-Quran langsung
tidak dijadikan rujukan hukum dan sumber. Para penguasa enggan untuk menerapkan
hukum-hakam Allah di dalam al-Quran ini, tetapi sebaliknya lebih rela untuk
menerapkan hukum-hakam skular buatan manusia. Ini semua adalah bukti nyata
tentang pengabaian mereka terhadap al-Quran.
Allah
SWT berfirman:
Apakah
kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada
apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu ?
Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah
mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan)
penyesatan yang sejauh-jauhnya. (An-Nisaa’ : 60)
- MEMBUMIKAN AL-QURAN:
Ungkapan
“Membumikan al-Quran” secara implisit atau kiasan mengandungi makna
bahwa al-Quran kini masih “Melangit” sehingga perlu dibumikan. Perkataan
“Membumikan al-Quran” memberi isyarat betapa “jauhnya” al-Quran
dari kenyataan kehidupan yang kita hadapi. Padahal idealnya al-Quran itu
seharusnya “dekat” dengan kita. Jadi “membumikan al-Quran” mengandungi
pengertian adanya upaya untuk mewujudkan “yang jauh” menjadi “yang
dekat”.
Agar
dapat mewujudkan kondisi “Membumikan al-Quran” yang ideal diperlukan
upaya konkrit yang mendasar berupa aktiviti memahami dan menerapkan al-Quran di
dalam realiti kehidupan. “Memahami” al-Quran adalah aktiviti yang
pertama, sedangkan buahnya adalah penerapan dalam kenyataan kehidupan.
Barangkali dari sinilah, maka “Membumikan al-Quran” dapat diartikan
sebagai upaya memahami dan menerapkan al-Quran secara sempurna dalam realiti
kehidupan.
Membumikan
al-Quran adalah mengembalikan al-Quran pada kedudukan dan fungsi sebenarnya,
iaitu dengan cara mengaplikasikan seluruh syari’at atau nilai-nilai yang
terkandung di dalamnya. Usaha suci ini tidak akan tercapai tanpa keberadaan Negara
Islam sebagai institusi yang menjamin pelaksanaannya secara menyeluruh
dalam kehidupan individu dan masyarakat.
Allah
SWT berfirman:
Sesungguhnya
Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi
khabar gembira kepada orang-orang Mu’min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi
mereka ada pahala yang besar, (Al-Isra’: 9)
Allah
SWT menegaskan di dalam ayat ini bahwa al-Quran adalah petunjuk, sumber segala
hukum, iaitu seluruh keyakinan, peraturan, norma, pandangan hidup dan cara
berfikir kaum Muslimin haruslah bersumber dari al-Quran, tidak hanya dalam
kehidupan individu saja, tetapi juga dalam kehidupan bermasyarakat.
Bagi
seorang Muslim Mukmin kitab Al-Quran adalah pusaka yang sangat agung untuk
dijadikan pedoman dalam kehidupan. Al-Quran adalah buku petunjuk ke jalan yang
benar. Bagi mereka yang memahami hakikat ini dan melaksanakannya dalam
kehidupan seharian, apakah secara individu, ketua masyarakat, ketua negara dan
lain-lain maka mereka akan selamat dalam menjalani kehidupan di dunia yang
sementara ini.
Namun
demikian, jika ditanya apakah sudah cukup dengan berpandukan al-Quran saja?
Maka jawabannya sudah pasti tidak ! sebab dalam Islam ada dua sumber utama yang
wajib diikuti, iaitu Al-Quran dan Al-Hadis. Kedua-duanya tidak boleh
dipisahkan.
Allah
SWT berfirman:
Dan
tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang
mukmin, apabila Allah dan rasul-Nya Telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada
bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. dan barangsiapa
mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang
nyata.(Al-Ahzab : 36)
Ayat
ini menegaskan bahwa Mukminin dan Mukminat tidak ada pilihan dalam hidup ini
kecuali mematuhi ketentuan Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang tidak berbuat
demikian, maka mereka terjerumus di dalam kesesatan. Wal ‘Iyadzu Billah.
- BEBERAPA CONTOH MEMBUMIKAN
AL-QURAN:
Diantara
bukti nyata bahwa al-Quran belum dibumikan dan betapa jauhnya sikap Umat Islam
terhadap ajaran Allah SWT yang termaktub di dalam Al-Quran, ialah:
- Anjuran membaca.
Ayat
pertama yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad SAW adalah lima ayat
pertama dari Surah al-‘Alaq. Ia memberi isyarat bahwa Islam sangat mementingkan
dan menggalakkan aktiviti tulis baca. Namun sangat disayangkan, justeru umat
Islam lah umat yang paling malas membaca.
- Pengurusan masa.
Allah
bersumpah dengan “Demi Masa” dalam surah al-‘Asr “. Ia menunjukkan
betapa Islam sangat mengambil berat yang berkaitan dengan “Pengurusan Masa”.
Jika orang Barat selalu dikatakan bangsa yang sangat hebat menjaga masa
sehingga timbul pepatah : Don’t wait tomorrow what you can do today !
Jangan kamu tunggu esok apa yang kamu bisa lakukan hari ini ! Namun jika kita
kaji maka Islam lebih hebat dari itu. Abdullah Bin Umar RA berkata : ( إِذَا
أَصْبَحْتَ فَلَا تَنْتَظِرِ المَسَاءَ وَإِذَا أَمْسَيْتَ فَلَا تَنْتَظِرِ
الصَّبَاحَ ) ” Jika kamu berpagi-pagi, maka jangan kamu tunggu petang. Dan
jika kamu sedang berpetang-petang, maka jangan kamu tunggu pagi”. (Riwayat
Imam Bukhari). Lagi-lagi sangat disayangkan justeru umat Islam yang banyak
membuang masa.
- Cinta ilmu pengetahuan.
Islam
agama ilmu, bukan agama warisan nenek moyang. Islam telah meletakkan kedudukan
orang yang berilmu begitu tinggi. Lebih-lebih lagi Ilmu Al-Quran dan Al-Hadis.
Allah berfirman : (Niscaya) Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman
di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.
(Al-Mujadilah : 11). Salaf Soleh berkata : Ilmu ialah apa yang Allah
firmankan dan apa yang Rasul-Nya sabdakan. Rasulullah SAW bersabda : Orang
yang paling baik dari kalangan kamu ialah orang yang mempelajari Al-Quran dan
mengajarnya kepada orang lain. (HR Bukhari)
Sungguh
banyak contoh-contoh lain, antaranya tentang : Kebersihan, Disiplin, Amanah,
Bekeja keras atau Rajin Berusaha, Berkata Benar, Berbaik sangka dan lain-lain.
Walaupun semua itu termaktub suruhannya di dalam al-Quran, tetapi sungguh
banyak umat Islam yang tidak melaksanakannya, tetapi sebaliknya sungguh banyak
larangan al-Quran justeru dilanggar.
Malahan
yang lebih mengherankan lagi justeru suruhan dan larangan yang terdapat di
dalam al-Quran justeru banyak dipraktekkan oleh Non Muslim alias Kuffar dalam
realiti kehidupan mereka. La Haula Wa Laa Quwwata Illa BilLaah al-‘Aliy
al-‘Azim.
KESIMPULAN
:
Berdasarkan
beberapa fakta di atas, maka berikut ini akan diambil beberapa kesimpulan,
antaranya :
- Setiap umat Islam wajib yakin
tanpa sedikitpun keraguan bahwa semua ketetapan Allah SWT di dalam
al-Quran adalah benar belaka. Khususnya mereka yang ingin mencapai derjat al-Muttaqin.
Allah berfirman:
Kitab
(Al-Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa,
(Al-Baqarah : 2 )
- Insan yang paling tepat untuk
dijadikan “Rule Model” atau contoh teladan adalah Nabi Muhammad SAW. Sebab
hanya baginda yang ma’shum dan tidak pernah salah. Allah berfirman :
Sesungguhnya
telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (Al-Ahzab :
21)
- Islam bukan hanya ibadat
mahdhah dalam arti kata ritual seperti solat, puasa, zakat, haji, umrah
tetapi Islam adalah “Way Of Life” atau Cara Hidup. Islam telah
mengatur segalanya. Jalan yang terbentang di hadapan manusia hanya dua
saja, iaitu : Jalan Allah dan Jalan Syaitan. Allah berfirman
:
Hai
orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan
janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh
yang nyata bagimu. (Al-Baqarah : 208)
- Perintah Allah dalam ayat di
atas agar orang-orang yang beriman masuk Islam secara “Kaaffah” yakni
menyeluruh, secara implisit (tersirat) kita dilarang memasuki Islam
setengah-setengah. Oleh itu, jika di dalam kehidupan di dunia ini kita
sedang tidak mengikuti ajaran Islam, maka itu secara tidak langsung kita
sedang berada di atas Jalan Syaitan. Padahal Allah SWT berfirman:
Sesungguhnya
syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia. (Al-Isra’ : 53)
- Setiap hari umat Islam memohon
“Shirat al-Mustaqim” yakni Jalan Lurus minimal tujuh belas kali dalam
sehari. Jalan Lurus adalah Jalan Allah dan Jalan Rasul, atau dengan kata
lain Al-Quran dan Al-Hadis. Hakikat ini begitu jelas diterangkan di dalam
Al-Quran.
Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah
Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), Karena jalan-jalan
itu mencerai beraikan kamu dari jalannya. (Al-An’am : 153)
Sesungguhnya
kamu (Muhammad) salah seorang dari rasul-rasul, (yang berada) diatas jalan yang
lurus, (Yasin : 3-4)
- Dalam persoalan Aqidah
(Keyakinan) dan Ibadat Mahdhah (Ibadah Khusus) seperti solat, puasa, zakat
dan lain-lain sudah ditetapkan oleh Al-Quran dan Al-Sunnah secara
terperinci. Adapun hal-hal yang berkaitan keduniaan atau mu’amalat,
Al-Quran dan Al-Sunnah hanya memberi panduan secara global atau umum.
Rasulullah SAW bersabda :
” Kamu lebih tahu tentang urusan dunia kamu ” . ( HR Muslim )
- Allah SWT menyuruh orang-orang
yang beriman supaya patuh kepada Allah, Rasul-Nya dan Ulil-Amri.
Ulil Amri ditafsirkan sebagai Umara’ dan ‘Ulama’. Umara’ : pemimpin dalam
hal keduniaan, seperti Gubernur, Bupati, Camat. Sedangkan Ulama’ :
pemimpin agama seperti Mufti, Qadhi, Pendakwah. Ketaatan kepada Allah dan
Rasul-Nya adalah mutlak, sedangkan ketaatan kepada Ulil Amri, apakah
Umara’ atau Ulama’ adalah bersyarat, selagi tidak bertentangan dengan
ketentuan Allah dan Rasul-Nya. Hakikat ini begitu jelas tercantum di dalam
firman Allah :
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya), dan ulil
amri di antara kamu. (Al-Nisaa’ : 59)
- PENUTUP :
- Islam adalah “Cara Hidup” atau
Way of Life. Bangsa Arab maju dan mencapai kegemilangannya pada zaman awal
ke-Islaman, bukan karena ke-Arabannya, tetapi karena mereka menerima
al-Quran sepenuhnya atau dengan kata lain karena mereka telah “Membumikan
al-Quran” dalam pengertian sebenarnya. Tetapi begitu mereka meninggalkan
ajaran al-Quran, maka akibatnya Negara Arab hari ini tidak lagi disegani
dunia. Walaupun mereka hidup dalam kekayaan dan kemewahan, namun mereka
berada dibawah cengkraman dan mengikuti telunjuk kuasa dunia.
- Bangsa atau suku Melayu tidak
dapat dipisahkan dengan Islam. Sehingga di Malaysia dikenal dengan
ungkapan : “Melayu itu Islam dan Islam itu Melayu”, sehingga jika ada
non-moslem masuk Islam, dikatakan “Masuk Melayu”. Kita mesti ingat bahwa
Melayu menjadi mulia dan bermarwah bukan semata-mata karena
ke-Melayuannya, tetapi jika mereka menjadikan Islam sebagai way of Life.
Islam tidak melarang untuk mengekalkan tradisi atau budaya ataupun
adat-istiadat Melayu, tetapi dengan syarat jika tidak bertentangan dengan
ajaran Islam.
- Islam agama Ilmu, bukan agama
warisan nenek moyang. Bangsa Arab yang pada asalnya dikenal sebagai “Arab
Jahiliyah” akhirnya bertukar menjadi “Umat Bertamaddun” tinggi setelah
mereka meninggalkan segala unsur syirik, khurafat dan budaya yang
bertentangan dengan Islam, seperti membunuh anak perempuan, minum arak,
berjudi, makan riba, berbunuh-bunuhan, fanatic atau ta’assub suku, zalim
dan lain-lain. Akhirnya mereka menjadi bangsa yang cukup disegani oleh dua
“Super Power” dunia ketika itu, yaitu Rome dan Parsi. Mereka mencapai
tahap begitu tinggi karena bersedia dibentuk oleh ajaran al-Quran.
- Membumikan al-Quran di “Alam
Melayu” belum cukup hanya dengan memperelok “Qira-ah” dengan Tajwid dan
bacaan yang merdu, tetapi kedepan kita mesti bertekad atau berazam untuk
mempertingkatkannya ke tahap “Tilawah” sebagaimana dipaparkan di
atas yang menuntut kepada setiap pembacanya agar memahami maknanya,
tadabbur dan menghayatinya, melaksanakan di dalam kehidupan sehari-hari,
dan menyebarkannya kepada orang lain.
- “Membumikan al-Quran” masih belum cukup jika hanya diterapkan pada ruang
lingkup yang sempit, seperti pada diri sendiri dan keluarga masing-masing,
kita sebagai umat yang beriman juga perlu bercita-cita dan berdoa semoga
Allah SWT mempermudah terbentuknya suatu negara yang dapat melaksanakan
hukum-hakam Allah yang termaktub di dalam al-Quran, sebab terdapat banyak
hukum-hakam di dalam al-Quran yang tidak boleh dilaksnakan secara
individu, tetapi mesti dilakukan oleh pihak pemerintah seperti hukum
hudud, qisas, ta’zir dan lain-lain. Sebab kaedah Ushul menyebut :
Apa
saja kewajiban yang tidak akan sempurna tanpanya, maka ia juga wajib.
Contoh
: Kewajiban solat tidak sempura tanpa wudhuk, maka hukum berwudhuk sebelum
solat hukumnya juga wajib. Kewajiban mengamalkan kandungan al-Quran tidak
mungkin sempurna tanpa memahaminya, maka usaha ke arah memahami al-Quran
menjadi suatu kewajiban. Ada beberapa “Hukum Allah” yang termaktub di dalam
al-Quran tidak mungkin dilaksanakan tanpa Negara, seperti hukum Qisas,
Hudud,Ta’zir dan lain-lain, maka kewujudan pemerintah yang dapat melaksanakan
tugas-tugas tersebut hendaknya menjadi cita-cita dan harapan setiap Umat Islam
yang beriman.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar