Senin, 22 Maret 2021

ESENSI TAWADU'

 

ESENSI SIFAT TAWADU’ DAN RELEVANSINYA

DENGAN KARAKTER SEORANG MU’MIN*

Oleh : SUHARTO,SHI

 

MUQODDIMAH

Makin berisi makin merunduk. Begitulah peribahasa ‘ilmu padi‘ yang sering kita dengar. Dalam syari’at Islam yang mulia pun diajarkan hal yang serupa, sifat dan sikap tawadhu’.

Al-Qur’an dalam beberapa ayatnya menyebutkan pujian bagi orang-orang yang tawadhu’ dan mengancam orang yang sombong. Tidak ada keutamaan seseorang terhadap yang lain kecuali nilai takwanya. Alloh  berfirman:

 

 “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Alloh ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Alloh Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. al-Hujurot [49]: 13)

Maka yang menjadi ukuran adalah ketakwaan, bukan banyaknya harta, tingginya pangkat atau kemuliaan nasab. Takwa adalah barometer dalam segala perkara. Tidak akan bermanfaat harta, pangkat dan keturunan kecuali diiringi dengan takwa. Salah satu perangai ketakwaan yang dianjurkan dalam agama adalah sifat tawadhu’.

Manusia itu terdiri atas jasmani dan ruhani, yang harus dipenuhi kebutuhannya dan dipelihara stabilitasnya secara seimbang. Kita sering mengisi dan mengasah otak kita dengan ilmu pengetahuan, tapi kita melupakan ruhani kita dengan siraman ruhani (agama), baik aqidah, ibadah, maupun akhlak. Padahal, manusia disebut insan karena ruhaninya, bukan jasmani semata.

Ada faktor yang menyebabkan manusia menolak kebenaran dan bersikap takabur/sombong kepada manusia lain:

Pertama, pengaruh harta kekayaan, tokoh yang ditampilkan Al-Qur-an, diperankanolehQarun.

Sesungguhnya Karun adalah termasuk kaum Musa[1138], maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (QS Al-Qashash: 76)

Kedua, pengaruh ilmu pengetahuan, yang diwakili oleh Haman, seorang menristeknya Firaun.

Dan berkatalah Fir'aun: "Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi supaya aku sampai ke pintu-pintu, (37).  (yaitu) pintu-pintu langit, supaya aku dapat melihat Tuhan Musa dan Sesungguhnya aku memandangnya seorang pendusta".. (QS Al-Mu’min:36-37)

Ketiga, pengaruh kekuasaan yang ditampilkan Al-Quran dalam sosok Firaun sendiri.

Firaun (seraya) berkata:"Akulah Tuhanmu yang paling tinggi".(QS al-Nazi’at: 24)

Itulah gambaran Al-Quran tentang tokoh-tokoh yang memiliki kedudukan yang tinggi dan terhormat di tengah-tengah masyarakatnya, baik lantaran ilmu, kekayaan, dan kekuasaan, tetapi tidak dibarengi dengan bimbingan ruhani yang bersifat keagamaan. Bahkan, mereka cenderung menentang dakwah dan ajaran agama yang dibawa Nabi Musa dan Harun.

Jika kita mencermati penyakit bangsa kita, menurut Hasil Seminar Lemhanas ke-17, maka kita dapat menjumpai salah satunya, adalah bangsa Indonesia cenderung bersikap fragmentasi. Artinya, penghargaan kepada seseorang dilihat dari jabatan, ilmu, atau kekayaannya. Ini jelas-jelas merupakan penyakit yang mengkhawatitrkan dan harus dicarikan obat penawarnya, yaitu menumbuh-suburkan sikap/sifat tawadhu’.

 

DEFINISI TAWADHU’

Tawadhu’ secara bahasa bermakna rendah terhadap sesuatu.[1] Sedangkan secara istilah adalah menampakkan perendahan hati kepada sesuatu yang diagungkan. Ada juga yang mengatakan tawadhu’ adalah mengagungkan orang karena keutamaannya. Tawadhu’ adalah menerima kebenaran dan tidak menentang hokum.[2]

Tidak ada yang mengingkari, tawadhu’ adalah akhlak yang mulia. Yang menjadi pertanyaan, kepada siapa kita merendahkan hati. Alloh عزّوجلّ menyifati hamba yang dicintai-Nya dalam firman-Nya;

أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ

“Yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir.” (QS. al-Maidah [5]: 54)

Di dalam referensi keagamaan, Al-Fudhail ditanya orang tentang arti Tawadhu’i : ”Anda tunduk kepada kebenaran, meskipun kebenaran itu disampaikan anak kecil atau yang tidak pandai.”

Ibnu Mubarak mengatakan, arti tawadhu’ yang paling tinggi adalah: ”menempatkan diri pada posisi yang sejajar dengan orang yang status ekonominya lebih rendah, sehingga tiada lagi kesenjangan antara keduanya. Sebaliknya, menempatkan diri pada posisi yang sejajar dengan orang yang lebih tinggi status ekonominya, sehingga tiada kesenjangan/perbedaan posisi antara keduanya.”:

Kebalikan dari tawadhu’ adalah takabbur yang didefinisikan ulama, ”menolak kebenaran (al-haq) dan memandang rendah orang lain.”
Jadi, orang yang sombong adalah orang yang memandang orang lain lebih buruk/ rendah daripada dirinya.


Ringkasnya, orang yang tawadhu’ adalah orang besar/terhormat yang mampu menempatkan diri  di hadapan orang yang lebih rendah kedudukan atau status ekonominya, sehingga tidak ada jurang pemisah di antara keduanya.

SYARAT TAWADHU’

Tawadhu’ adalah akhlak yang agung dan ia tidak sah kecuali dengan dua syarat;

Pertama: Ikhlas karena Alloh  semata. Rosululloh  bersabda;

 “Tidaklah seseorang tawadhu’ karena Alloh, kecuali Alloh akan angkat derajatnya.” (HR. Muslim: 2588)

Kedua: Kemampuan

Rosululloh  bersabda:

 “Barangsiapa yang meninggalkan pakaian[3]  karena tawadhu’ kepada Alloh[4] padahal dia mampu, maka Alloh akan memanggilnya pada hari kiamat di hadapan seluruh makhluk hingga Alloh memberinya pilihan dari perhiasan penduduk surga, ia bisa memakainya sekehendaknya.” [5]

 

KEUTAMAAN TAWADHU’

Tidaklah sifat yang terpuji melainkan menyimpan keutamaan. Ini adalah sebagai pendorong bagi kita agar segera berhias dengan sifat tersebut. Di antara keutamaan sifat tawadhu’ adalah;

 

1. Menjalankan perintah Alloh عزّوجلّ

Alloh عزّوجلّ berfirman:

 

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman.” (QS. asy-Syu’aro [26]: 215)

Syaikh Ibnu Utsaimin  berkata: “Maksudnya adalah tawadhu’, karena orang yang sombong melihat dirinya bagaikan burung yang terbang di angkasa, maka Alloh عزّوجلّ memerintahkan untuk merendahkan sayapnya dan merendahkan diri terhadap orang-orang beriman yang mengikati Nabi .’” [6]

2. Alloh عزّوجلّ membenci orang yang sombong

Alloh  berfirman:

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحاً إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Alloh tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman [31]: 18)

Sahabat mulia Ibnu Abbas رضي الله عنهما berkata: “Yaitu janganlah kamu sombong, sehingga membawa kalian merendahkan hamba Alloh dan berpaling dari mereka jika mereka berbicara kepadamu.” [7]

3. Perangai hamba yang terpuji

Alloh عزّوجلّ berfirman:

وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْناً وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَاماً

“Dan hamba-hamba Alloh yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.” (QS. al-Furqon [25]: 63)

Imam Ibnul Qoyyim  mengatakan: “Firman Alloh عزّوجلّ berjalan di atas bumi dengan rendah hati yaitu mereka berjalan dengan tenang, penuh dengan ketawadhu’an, tidak congkak dan sombong.” [8]

 

4. Jalan menuju surga

Alloh  berfirman:

 “Negeri akhirat[9]  itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. dan kesudahan (yang baik) itu[10]  adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. al-Qoshos [28]: 83)

5. Mengangkat derajat seorang hamba

Selayaknya bagi setiap muslim untuk berhias diri dengan sifat tawadhu’ karena dengan tawadhu’ tersebut Alloh if. akan meninggikan derajatnya. Rosululloh  bersabda;

وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ

“Tidaklah seseorang tawadhu’ karena Alloh kecuali Alloh  mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim: 2588)

Imam an-Nawawi  berkata: “Hadits ini mempunyai dua makna:

Pertama: Alloh akan meninggikan derajatnya di dunia, dan mengokohkan sifat tawadhu’nya dalam hati hingga Alloh عزّوجلّ mengangkat derajatnya di mata manusia.

Kedua: Pahala di akhirat, yakni Alloh عزّوجلّ akan mengangkat derajatnya di akhirat disebabkan tawadhu’nya di dunia.[11]

6. Mendatangkan rasa cinta, persaudaraan dan menghilangkan kebencian

Rosululloh  bersabda:

وَإِنَّ اللَّهَ أَوْحَى إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّى لَا يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ وَلَا يَبْغِ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ

“Sesungguhnya Alloh  mewahyukan kepadaku agar kalian tawadhu’, hingga tidak ada seorang pun yang membanggakan dirinya atas orang lain dan tidak ada lagi orang yang menyakiti atas orang lain.” (HR. Muslim: 2865)

 

MACAM-MACAM TAWADHU’

Pertama: Tawadhu’ yang terpuji

Yaitu tawadhu’nva seorang hamba ketika melaksanakan perintah Alloh عزّوجلّ dan meninggalkan larangan-Nya. Karena jiwa ini secara tabiat akan mencari kesenangan dan rasa lapang serta tidak ingm terbebani sehingga akan menimbulkan keinginan lari dari peribadatan dan tetap dalam kesenangannya. Maka apabila seorang hamba mampu  menundukan dirinya dengan melaksanakan perintah Alloh dan menjauhi larangan-Nya, sungguh ia telah tawadhu’ dalam peribadatan.

Kedua: Tawadhu’ yang tercela

Yaitu tawadhu’nya seseorang kepada orang yang mempunyai pangkat dunia karena berharap mendapat bagian dunia darinya.

Orang yang memiliki akal sehat dan selamat tentunya ia akan berusaha meninggalkan tawadhu’ tercela ini dan akan berusaha berhias dengan sifat tawadhu’ yang terpuji.[12]

 

TINGKATAN TAWADHU’

Pertama: Tawadhu’ di dalam agama

Yaitu patuh dan mengerjakan yang diajarkan oleh Nabi Muhammad secara pasrah, runduk dan taat. Hal itu tidak bisa terwujud kecuali dengan tiga perkara;

  1. Tidak mempertentangkan ajaran yang dibawa oleh Nabi dengan akal, analogi, perasaan, atau siasat.
  2. Tidak menuduh bahwa dalil-dalil dalam agama ini adalah cacat dan jelek serta berprasangka bahwa dalil-dalil agama ada yang kurang, atau yang lainnya lebih utama. Barangsiapa yang terlintas dalam pikirannya hal seperti ini, maka salahkanlah pemahamannya.
  3. Tidak menyelisihi nash dan dalil yang telah tetap.

Kedua: Menerima kebenaran dari orang yang dicintai atau yang dibenci

Tidak termasuk sikap tawadhu’ adalah menolak kebenaran dikarenakan ia berasal dari musuh.

Ketiga: Menjunjung al-haq

Yaitu menjadikan al-haq dan perintah sebagai dasar perbuatan dan menjalankan ibadah kepada Alloh عزّوجلّ semata-mata karena perintah dari Alloh dan bukan karena kebiasaan atau hawa nafsu.[13]

 

TAWADHU’ DAN MENGHINAKAN DIRI

Kita sering mendengar istilah tawadhu’ dan menghinakan diri. Keduanya sangat berbeda. Sifat tawadhu’ muncul karena atas dasar ilmu dan pengetahuannya kepada Alloh عزّوجلّ dan karena pengagungan dan kecintaan kepadaNya serta kesadaran mengintropeksi terhadap aib pribadi.

Semua hal tersebut melahirkan sifat tawadhu’ dalam dirinya. Hatinya tunduk kepada Alloh , patuh dan berserah diri serta mempunyai sifat kasih sayang kepada manusia. Ia melihat tidak mempunyai keutamaan atas orang lain dan ti-dak merasa benar sendiri atas orang lain. Akhlak semacam ini hanyalah pemberian Alloh عزّوجلّ kepada hamba-Nya yang dicintai dan yang dimuliakan serta dekat kepadaNya.

Adapun menghinakan diri adalah merendahkan dan menghinakan dirinya kepada orang lain untuk meraih bagian dan kelezatan syahwatnya. Seperti perendahan diri karyawan karena ingin mendapat sesuatu yang diinginkan dari atasannya, kepatuhan orang yang diajak maksiat kepada orang yang mengajaknya, atau kepatuhan orang yang ingin meraih bagian dunia kepada orang yang ia harapkan.

Semua ini adalah bentuk penghinaan diri dan bukan tawadhu’. Alloh عزّوجلّ hanya mencintai orang-orang yang tawadhu’ dan membenci perendahan dan penghinaan diri.[14]

Imam Ahmad bin Abdurrahman al-Maqdisi  mengatakan: “Sikap pertengahan adalah dengan tawadhu’ tanpa merendahkan diri, dan ini adalah terpuji. Sikap tawadhu’ yang terpuji adalah dengan berbuat adil, yaitu memberikan kepada setiap orang yang mempunyai kedudukan haknya.” [15]

 

KIAT MENGGAPAI TAWADHU’

1.    Berfikirlah dari apa kita diciptakanJika seorang muslim bisa mengukur diri, dan menyadari siapa dirinya, dia akan menilai bahwa dirinya adalah insan yang rendah dan hina. Karena manusia bila dilihat dari asal penciptaan berasal dari setetes mani yang keluar dari saluran air kencing, kemudian menjadi segumpal darah, segumpal daging dan akhirnya menjadi seorang insan.

Berawal dari tidak bisa mendengar, tidak melihat dan lemah kemudian menjadi insan yang sempurna penciptaannya. Alloh عزّوجلّ berfirman;

 

 “Dari apakah Alloh menciptakannya? dari setetes mani, Alloh menciptakannya lalu menentukannya, kemudian Dia memudahkan jalannya.” (QS. ‘Abasa [80]: 18-20)

Alloh عزّوجلّ juga berfirman;

إِنَّا خَلَقْنَا الْإِنسَانَ مِن نُّطْفَةٍ أَمْشَاجٍ نَّبْتَلِيهِ فَجَعَلْنَاهُ سَمِيعاً بَصِيراً

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan ia mendengar dan melihat.” (QS. al-Insan [76]: 2)

Apabila kondisi manusia seperti ini, mengapa ia sombong dan tidak tawadhu’?!

Imam Ibnu Hibban Asy-Sayfi’i  mengatakan: “Bagaimana mungkin seseorang tidak tawadhu’ padahal ia diciptakan dari setetes mani yang hina dan akhir hidupnya ia akan kembali menjadi bangkai yang menjijikkan serta kehidupannya di dunia ia membawa kotoran?”[16]

2.    Kenalilah diri AndaAlloh سبحانه و تعالي berfirman:

وَلاَ تَمْشِ فِي الأَرْضِ مَرَحاً إِنَّكَ لَن تَخْرِقَ الأَرْضَ وَلَن تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولاً

“Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.” (QS. al-Isro’ [17]: 37)

Syaikh Muhammad Amin as-Syinqithi  berkata: “Wahai orang yang sombong, engkau adalah orang yang lemah, hina dan terbatas di dunia ini. Bumi yang engkau berpijak di atasnya, engkau tidak bisa berbuat apapun walaupun engkau injak dengan sekuat tenaga. Jangan angkuh, jangan berjalan di muka bumi ini dengan sombong.” [17]

POTRET TAWADHU’ RASULULLAH

Barangsiapa yang ingin membersihkan hatinya dari sifat sombong dan ingin berhias dengan tawadhu’, maka hendaklah ia melihat suri tauladan kaum muslimin yakni Rosululloh  Sungguh Alloh  telah memuji dan menyempurnakan akhlaknya.

Alloh  berfirman:

وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. al-Qolam [68]: 4)

Di antara sifat tawadhu’ Rosululloh عزّوجلّ adalah:

Rosululloh bersabda:

لَا تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتْ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ فَقُولُوا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ

“Janganlah kalian berlebihan kepadaku sebagaimana orang-orang Nasrani yang berlebihan kepada Isa bin Maryam. Aku hanyalah seorang hamba. Katakanlah; hamba Alloh dan Rosul-Nya.” (HR. Bukhori: 3445)

Aisyah  berkata: “Rosululloh sangat perhatian dalam membantu urusan keluarganya. Apabila telah tiba waktu sholat, beliau bergegas pergi menuju sholat.” (HR. Bukhori: 676)

Rosululloh bersabda: “Aku makan sebagaimana makannya seorang hamba, dan aku duduk sebagaimana duduknya seorang hamba.”[18]

Rosululloh melewati sekumpulan anak kecil, kemudian beliau mengucapkan salam kepada mereka. (HR.Bukhori: 6247, Muslim: 2168)

Rosululloh menjahit sandalnya, menambal bajunya, memeras susu ternak untuk keluarganya dan memberi makan unta. Beliau makan bersama pembantunya dan mengundang orang-orang miskin. Berjalan bersama para janda dan anak-anak yatim untuk memenuhi kebutuhan mereka. Beliau memulai salam lebih dahulu jika bertemu orang lain dan beliau memenuhi undangan orang yang mengundangnya sekalipun dalam sesuatu undangan yang ringan.[19]

Abu Sa’id al-Khudri berkata: “Cintailah orang-orang yang miskin karena aku mendengar Rosululloh bersabda dalam do’anya: “Ya Alloh, hidupkanlah aku dalam keadaan miskin, wafatkanlah aku dalam keadaaan miskin dan masukkanlah aku bersama orang-orang yang miskin pada hari kiamat.” [20]

Al-Hafizh Ibnu Rojab mengatakan: “Yang dimaksud dengan miskin dalam hadits ini adalah orang yang di dalam hatinya ada rasa tenang, tunduk dan khusyu’ kepada Alloh عزّوجلّ.[21]

 

 

MUTIARA SALAF SEPUTAR TAWADHU’

  1. Sahabat mulia Abu Bakr as-Shiddiq berkata: “Kami mendapati kemuliaan dalam ketakwaan, kecukupan dalam keyakinan dan kehormatan dalam tawadhu’.” [22]
  1. Ummul Mukminin Aisyah berkata: “Kalian telah melupakan ibadah yang paling afdhol yaitu tawadhu’.”[23]
  2. Fudhail bin Iyadh pernah ditanya tentang tawadhu’, beliau menjawab: “Tawadhu’ adalah engkau tunduk terhadap kebenaran, mengamalkan dan menerimanya dari orang yang mengucapkannya. Sekalipun mendengarnya dari seorang anak kecil maka ia akan menerimanya atau walaupun mendengarnya dari manusia yang paling bodoh maka ia akan tetap menerimanya.” [24]
  3. ‘Urwah bin Wardi berkata: “Tawadhu’ adalah salah satu tujuan kemuliaan. Setiap nikmat pasti ada yang hasad kecuali tawadhu’.” [25]
  4. Ibrohim bin Adham berkata: “Tidak pantas bagi seseorang untuk merendahkan dirinya di bawah kedudukannya. Dan janganlah dia mengangkat dirinya di atas kedudukannya”.[26]

Demikian indahnya sifat tawadhu’. Ya Alloh, tunjukilah kami agar bisa berhias dengan akhlak yang mulia dan jauhkanlah kami dari sifat yang tercela. Amiin. Alloh A’lam

·         Disampaikan pada pertemuan rutin Pokjaluh tgl 14 Desember 2016

 

Daftar Pustaka


  1. Mu’jam Maqoyis al-Lughoh hlm.1055, Ibnu Faris, al-Mufrodaat hlm.540, al-Ashfahani
  2. Madarij as-Salikin 2/379, Ibnul Qoyyim, Fathul Bari 11/341, Ibnu Hajar
  3. Yaitu pakaian yang bagus dan mahal.
  4. Maksudnya bukan karena ingin dikatakan dia adalah orang yang tawadhu’, zuhud atau lainnya. (Tuhfatul Ahwadzi 7/154, Mubarok Fury)
  5. HR. Tirmidzi: 2481, Ahmad 3/439, Hakim 4/183, Abu Nu’aim dalam al-Hilyah 8/48 dll. Hadits ini dinyatakan hasan oleh Syaikh al-Albani dalam ash-Shohihah no.718
  6. Syarah Riyadhus Sholihin 3/515
  7. Fathul Qodir 4/301, Syaukani
  8. Madarijus Salikin 2/375, Ibnul Qoyyim, Tahqiq: Amir Ali Yasin
  9. Yang dimaksud kampung akhirat di sini ialah kebahagiaan dan kenikmatan di akhirat
  10. Maksudnya: surga
  11. Syarah Shohih Muslim 16/143
  12. Roudhotul Uqola hlm.59, Ibnu Hibban, Nadhrotun Na’im 4/1256-1257, Nahwa Akhlaq as-Salaf  hlm.153, Salim al-Hilali, Aina Nahnu Min Haulaa hlm.127, Abdul Malik al-Qosim
  13. Madarij as-Salikin 2/383-388, Ibnul Qoyyim
  14. Ar-Ruuh hlm.273, Ibnul Qoyyim
  15. Mukhtashor Minhajul Qoshidin hlm.298, Tahqiq: Ali Hasan Ali Abdul Hamid
  16. Roudhotul Uqolaa hlm.61
  17. Adhwaaul Bayan 3/592
  18. HR. Baghowi dalam Syarhus Sunnah 13/248. Dicantumkan oleh Syaikh al-Albani dalam as-Shohihah: 544
  19. Madarij as-Salikin 2/377-378
  20. HR.Tirmidzi: 2352, Ibnu Majah: 4126. Hadits ini dinyatakan hasan oleh syaikh al-Albani dalam as-Shohihah: 308, al-Irwaa: 861
  21. Adz-Dzul Wal Inkisar Lil Azizil Jabbar, termuat dalam Majmu’ Rosail al-Hafizh Ibnu Rojab al-Hanbali 1/309.
  22. lhya’ Ulumuddin 3/343, al-Ghozali
  23. Az-Zuhud 2/463, Imam al-Waki’
  24. Madarij as-Salikin 2/379
  25. lhya Ulumuddin 3/343
  26. Syu’abul Iman no.7874, al-Baihaqi. Lihat pula Nadhrotuu Na’im 4/1267-1268, Min Akhbar as-Salaf hlm.247-252, Zakaria bin Ghulam al-Bakistani


[1]Ibnu Faris, Mu’jam Maqoyis al-Lughoh hal:1055, Lihat Juga  al-Ashfahani al-Mufrodaat hlm.540,

[2] Ibnul Qoyyim, Madarij as-Salikin, Juz 2. Hal:379, Lihat Juga , Ibnu Hajar , Fathul Bari 11/341, Ibnu Hajar

[3] Yaitu pakaian yang bagus dan mahal

[4] Maksudnya bukan karena ingin dikatakan dia adalah orang yang tawadhu’, zuhud atau lainnya. (Tuhfatul Ahwadzi 7/154, Mubarok Fury)

[5] HR. Tirmidzi: 2481, Ahmad 3/439, Hakim 4/183, Abu Nu’aim dalam al-Hilyah 8/48 dll. Hadits ini dinyatakan hasan oleh Syaikh al-Albani dalam ash-Shohihah no.718

[6] Syarah Riyadhus Sholihin 3/515

[7] Syaukani ,Fathul Qodir Juz 4, Hal :301,

[8] Ibnul Qoyyim, Madarijus Salikin 2/375, Tahqiq: Amir Ali Yasin

[9] Yang dimaksud kampung akhirat di sini ialah kebahagiaan dan kenikmatan di akhirat

[10] Maksudnya: surga

[11] Syarah Shohih Muslim 16/143

[12] Roudhotul Uqola hlm.59, Ibnu Hibban, Nadhrotun Na’im 4/1256-1257, Nahwa Akhlaq as-Salaf  hlm.153, Salim al-Hilali, Aina Nahnu Min Haulaa hlm.127, Abdul Malik al-Qosim

 

[13] Ibnul Qoyyim Madarij as-Salikin 2/383-388,

[14] Ibnul Qoyyim Ar-Ruuh hlm.273,

[15]Ali Hasan Ali Abdul Hamid ,Mukhtashor Minhajul Qoshidin hlm.298.

[16] Roudhotul Uqolaa hlm.61

[17] Adhwaaul Bayan 3/592

[18] HR. Baghowi dalam Syarhus Sunnah 13/248. Dicantumkan oleh Syaikh al-Albani dalam as-Shohihah: 544

[19] Madarij as-Salikin 2/377-378

[20] HR.Tirmidzi: 2352, Ibnu Majah: 4126. Hadits ini dinyatakan hasan oleh syaikh al-Albani dalam as-Shohihah: 308, al-Irwaa: 861

[21] Adz-Dzul Wal Inkisar Lil Azizil Jabbar, termuat dalam Majmu’ Rosail al-Hafizh Ibnu Rojab al-Hanbali 1/309.

[22] al-Ghozali lhya’ Ulumuddin 3/343.

[23]Imam al-Waki’ Az-Zuhud 2/463.

[24] Madarij as-Salikin 2/379

[25] lhya Ulumuddin 3/343

[26] Syu’abul Iman no.7874, al-Baihaqi. Lihat pula Nadhrotuu Na’im 4/1267-1268, Min Akhbar as-Salaf hlm.247-252, Zakaria bin Ghulam al-Bakistani

Tidak ada komentar:

Posting Komentar