ESENSI
SIFAT TAWADU’ DAN RELEVANSINYA
DENGAN
KARAKTER SEORANG MU’MIN*
Oleh : SUHARTO,SHI
MUQODDIMAH
Makin berisi
makin merunduk. Begitulah peribahasa ‘ilmu padi‘ yang sering kita
dengar. Dalam syari’at Islam yang mulia pun diajarkan hal yang serupa, sifat
dan sikap tawadhu’.
Al-Qur’an
dalam beberapa ayatnya menyebutkan pujian bagi orang-orang yang tawadhu’ dan
mengancam orang yang sombong. Tidak ada keutamaan seseorang terhadap yang lain
kecuali nilai takwanya. Alloh berfirman:
“Sesungguhnya
orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Alloh ialah orang yang paling
takwa di antara kamu. Sesungguhnya Alloh Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.”
(QS. al-Hujurot [49]: 13)
Maka yang
menjadi ukuran adalah ketakwaan, bukan banyaknya harta, tingginya pangkat atau
kemuliaan nasab. Takwa adalah barometer dalam segala perkara. Tidak akan
bermanfaat harta, pangkat dan keturunan kecuali diiringi dengan takwa. Salah
satu perangai ketakwaan yang dianjurkan dalam agama adalah sifat tawadhu’.
Manusia itu
terdiri atas jasmani dan ruhani, yang harus dipenuhi kebutuhannya dan
dipelihara stabilitasnya secara seimbang. Kita sering mengisi dan mengasah otak
kita dengan ilmu pengetahuan, tapi kita melupakan ruhani kita dengan siraman
ruhani (agama), baik aqidah, ibadah, maupun akhlak. Padahal, manusia disebut
insan karena ruhaninya, bukan jasmani semata.
Pertama,
pengaruh harta kekayaan, tokoh yang ditampilkan Al-Qur-an, diperankanolehQarun.
Sesungguhnya Karun adalah termasuk kaum Musa[1138], maka ia berlaku
aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan
harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang
kuat-kuat. (QS Al-Qashash: 76)
Kedua,
pengaruh ilmu pengetahuan, yang diwakili oleh Haman, seorang menristeknya
Firaun.
Dan berkatalah Fir'aun: "Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah
bangunan yang tinggi supaya aku sampai ke pintu-pintu, (37). (yaitu)
pintu-pintu langit, supaya aku dapat melihat Tuhan Musa dan Sesungguhnya aku
memandangnya seorang pendusta".. (QS Al-Mu’min:36-37)
Ketiga,
pengaruh kekuasaan yang ditampilkan Al-Quran dalam sosok Firaun sendiri.
Firaun (seraya) berkata:"Akulah Tuhanmu
yang paling tinggi".(QS al-Nazi’at: 24)
Itulah
gambaran Al-Quran tentang tokoh-tokoh yang memiliki kedudukan yang tinggi dan
terhormat di tengah-tengah masyarakatnya, baik lantaran ilmu, kekayaan, dan
kekuasaan, tetapi tidak dibarengi dengan bimbingan ruhani yang bersifat
keagamaan. Bahkan, mereka cenderung menentang dakwah dan ajaran agama yang
dibawa Nabi Musa dan Harun.
Jika kita
mencermati penyakit bangsa kita, menurut Hasil Seminar Lemhanas ke-17, maka
kita dapat menjumpai salah satunya, adalah bangsa
DEFINISI TAWADHU’
Tawadhu’
secara bahasa bermakna rendah terhadap sesuatu.[1]
Sedangkan secara istilah adalah menampakkan perendahan hati kepada sesuatu yang
diagungkan.
Tidak ada
yang mengingkari, tawadhu’ adalah akhlak yang mulia. Yang menjadi pertanyaan,
kepada siapa kita merendahkan hati. Alloh عزّوجلّ menyifati hamba yang
dicintai-Nya dalam firman-Nya;
أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ
أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ
“Yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap
keras terhadap orang-orang kafir.” (QS. al-Maidah [5]: 54)
Di dalam
referensi keagamaan, Al-Fudhail ditanya orang tentang arti Tawadhu’i : ”Anda
tunduk kepada kebenaran, meskipun kebenaran itu disampaikan anak kecil atau
yang tidak pandai.”
Ibnu Mubarak
mengatakan, arti tawadhu’ yang paling tinggi adalah: ”menempatkan diri pada
posisi yang sejajar dengan orang yang status ekonominya lebih rendah, sehingga
tiada lagi kesenjangan antara keduanya. Sebaliknya, menempatkan diri pada
posisi yang sejajar dengan orang yang lebih tinggi status ekonominya, sehingga
tiada kesenjangan/perbedaan posisi antara keduanya.”:
Kebalikan
dari tawadhu’ adalah takabbur yang didefinisikan ulama, ”menolak kebenaran
(al-haq) dan memandang rendah orang lain.”
Jadi, orang yang sombong adalah orang yang memandang orang lain lebih buruk/
rendah daripada dirinya.
Ringkasnya, orang yang tawadhu’ adalah orang besar/terhormat yang mampu
menempatkan diri di hadapan orang yang lebih rendah kedudukan atau status
ekonominya, sehingga tidak ada jurang pemisah di antara keduanya.
SYARAT TAWADHU’
Tawadhu’ adalah akhlak yang
agung dan ia tidak sah kecuali dengan dua syarat;
Pertama:
Ikhlas karena Alloh semata. Rosululloh bersabda;
“Tidaklah
seseorang tawadhu’ karena Alloh, kecuali Alloh akan angkat derajatnya.”
(HR. Muslim: 2588)
Kedua:
Kemampuan
Rosululloh bersabda:
“Barangsiapa
yang meninggalkan pakaian[3]
karena tawadhu’ kepada Alloh[4]
padahal dia mampu, maka Alloh akan memanggilnya pada hari kiamat di hadapan
seluruh makhluk hingga Alloh memberinya pilihan dari perhiasan penduduk surga,
ia bisa memakainya sekehendaknya.” [5]
KEUTAMAAN
TAWADHU’
Tidaklah sifat yang terpuji
melainkan menyimpan keutamaan. Ini adalah sebagai pendorong bagi kita agar
segera berhias dengan sifat tersebut. Di antara keutamaan sifat tawadhu’
adalah;
1. Menjalankan perintah Alloh عزّوجلّ
Alloh عزّوجلّ berfirman:
“Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang
yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman.” (QS. asy-Syu’aro [26]:
215)
Syaikh Ibnu Utsaimin berkata: “Maksudnya adalah tawadhu’, karena
orang yang sombong melihat dirinya bagaikan burung yang terbang di angkasa,
maka Alloh عزّوجلّ memerintahkan untuk merendahkan sayapnya dan merendahkan
diri terhadap orang-orang beriman yang mengikati Nabi .’” [6]
2. Alloh عزّوجلّ membenci orang yang
sombong
Alloh
berfirman:
وَلَا
تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحاً إِنَّ اللَّهَ
لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ
“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari
manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan
angkuh. Sesungguhnya Alloh tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi
membanggakan diri.” (QS. Luqman [31]: 18)
Sahabat mulia Ibnu Abbas رضي
الله عنهما berkata: “Yaitu janganlah kamu sombong, sehingga membawa kalian
merendahkan hamba Alloh dan berpaling dari mereka jika mereka berbicara
kepadamu.” [7]
3. Perangai hamba yang terpuji
Alloh عزّوجلّ berfirman:
وَعِبَادُ
الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْناً وَإِذَا خَاطَبَهُمُ
الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَاماً
“Dan hamba-hamba Alloh yang Maha Penyayang
itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan
apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang
mengandung) keselamatan.” (QS. al-Furqon [25]: 63)
Imam Ibnul Qoyyim mengatakan: “Firman Alloh عزّوجلّ berjalan di
atas bumi dengan rendah hati yaitu mereka berjalan dengan tenang, penuh dengan
ketawadhu’an, tidak congkak dan sombong.” [8]
4. Jalan menuju surga
Alloh
berfirman:
“Negeri
akhirat[9] itu, Kami
jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat
kerusakan di (muka) bumi. dan kesudahan (yang baik) itu[10] adalah
bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. al-Qoshos [28]: 83)
5. Mengangkat derajat seorang hamba
Selayaknya bagi setiap muslim untuk berhias diri
dengan sifat tawadhu’ karena dengan tawadhu’ tersebut Alloh if. akan
meninggikan derajatnya. Rosululloh
bersabda;
وَمَا
تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ
“Tidaklah seseorang tawadhu’ karena Alloh
kecuali Alloh mengangkat derajatnya.”
(HR. Muslim: 2588)
Imam an-Nawawi
berkata: “Hadits ini mempunyai dua makna:
Pertama: Alloh akan
meninggikan derajatnya di dunia, dan mengokohkan sifat tawadhu’nya dalam hati
hingga Alloh عزّوجلّ mengangkat derajatnya di mata manusia.
Kedua: Pahala di akhirat,
yakni Alloh عزّوجلّ akan mengangkat derajatnya di akhirat disebabkan
tawadhu’nya di dunia.[11]
6. Mendatangkan rasa cinta, persaudaraan
dan menghilangkan kebencian
Rosululloh
bersabda:
وَإِنَّ
اللَّهَ أَوْحَى إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّى لَا يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى
أَحَدٍ وَلَا يَبْغِ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ
“Sesungguhnya Alloh mewahyukan kepadaku agar kalian tawadhu’, hingga
tidak ada seorang pun yang membanggakan dirinya atas orang lain dan tidak ada
lagi orang yang menyakiti atas orang lain.” (HR. Muslim: 2865)
MACAM-MACAM TAWADHU’
Pertama: Tawadhu’ yang terpuji
Yaitu tawadhu’nva seorang
hamba ketika melaksanakan perintah Alloh عزّوجلّ dan meninggalkan larangan-Nya.
Karena jiwa ini secara tabiat akan mencari kesenangan dan rasa lapang serta
tidak ingm terbebani sehingga akan menimbulkan keinginan lari dari peribadatan
dan tetap dalam kesenangannya. Maka apabila seorang hamba mampu
menundukan dirinya dengan melaksanakan perintah Alloh dan menjauhi
larangan-Nya, sungguh ia telah tawadhu’ dalam peribadatan.
Kedua: Tawadhu’ yang tercela
Yaitu tawadhu’nya seseorang
kepada orang yang mempunyai pangkat dunia karena berharap mendapat bagian dunia
darinya.
Orang yang memiliki akal sehat
dan selamat tentunya ia akan berusaha meninggalkan tawadhu’ tercela ini dan
akan berusaha berhias dengan sifat tawadhu’ yang terpuji.[12]
TINGKATAN
TAWADHU’
Pertama: Tawadhu’ di dalam agama
Yaitu patuh dan mengerjakan
yang diajarkan oleh Nabi Muhammad secara pasrah, runduk dan taat. Hal itu tidak
bisa terwujud kecuali dengan tiga perkara;
- Tidak
mempertentangkan ajaran yang dibawa oleh Nabi dengan akal, analogi,
perasaan, atau siasat.
- Tidak
menuduh bahwa dalil-dalil dalam agama ini adalah cacat dan jelek serta
berprasangka bahwa dalil-dalil agama ada yang kurang, atau yang lainnya
lebih utama. Barangsiapa yang terlintas dalam pikirannya hal seperti ini,
maka salahkanlah pemahamannya.
- Tidak
menyelisihi nash dan dalil yang telah tetap.
Kedua: Menerima kebenaran dari orang yang
dicintai atau yang dibenci
Tidak termasuk sikap tawadhu’
adalah menolak kebenaran dikarenakan ia berasal dari musuh.
Ketiga: Menjunjung al-haq
Yaitu menjadikan al-haq dan
perintah sebagai dasar perbuatan dan menjalankan ibadah kepada Alloh عزّوجلّ
semata-mata karena perintah dari Alloh dan bukan karena kebiasaan atau hawa
nafsu.[13]
TAWADHU’
DAN MENGHINAKAN DIRI
Kita
sering mendengar istilah tawadhu’ dan menghinakan diri. Keduanya sangat
berbeda. Sifat tawadhu’ muncul karena atas dasar ilmu dan pengetahuannya kepada
Alloh عزّوجلّ dan karena pengagungan dan kecintaan kepadaNya serta kesadaran
mengintropeksi terhadap aib pribadi.
Semua hal tersebut melahirkan
sifat tawadhu’ dalam dirinya. Hatinya tunduk kepada Alloh , patuh dan berserah
diri serta mempunyai sifat kasih sayang kepada manusia. Ia melihat tidak
mempunyai keutamaan atas orang lain dan ti-dak merasa benar sendiri atas orang
lain. Akhlak semacam ini hanyalah pemberian Alloh عزّوجلّ kepada hamba-Nya yang
dicintai dan yang dimuliakan serta dekat kepadaNya.
Adapun menghinakan diri adalah
merendahkan dan menghinakan dirinya kepada orang lain untuk meraih bagian dan
kelezatan syahwatnya. Seperti perendahan diri karyawan karena ingin mendapat
sesuatu yang diinginkan dari atasannya, kepatuhan orang yang diajak maksiat
kepada orang yang mengajaknya, atau kepatuhan orang yang ingin meraih bagian
dunia kepada orang yang ia harapkan.
Semua ini adalah bentuk
penghinaan diri dan bukan tawadhu’. Alloh عزّوجلّ hanya mencintai orang-orang
yang tawadhu’ dan membenci perendahan dan penghinaan diri.[14]
Imam Ahmad bin Abdurrahman
al-Maqdisi mengatakan: “Sikap
pertengahan adalah dengan tawadhu’ tanpa merendahkan diri, dan ini adalah
terpuji. Sikap tawadhu’ yang terpuji adalah dengan berbuat adil, yaitu
memberikan kepada setiap orang yang mempunyai kedudukan haknya.” [15]
KIAT
MENGGAPAI TAWADHU’
1. Berfikirlah dari apa
kita diciptakanJika seorang muslim bisa mengukur diri, dan menyadari
siapa dirinya, dia akan menilai bahwa dirinya adalah insan yang rendah dan
hina. Karena manusia bila dilihat dari asal penciptaan berasal dari setetes
mani yang keluar dari saluran air kencing, kemudian menjadi segumpal darah,
segumpal daging dan akhirnya menjadi seorang insan.
Berawal dari tidak bisa
mendengar, tidak melihat dan lemah kemudian menjadi insan yang sempurna
penciptaannya. Alloh عزّوجلّ berfirman;
“Dari
apakah Alloh menciptakannya? dari setetes mani, Alloh menciptakannya lalu
menentukannya, kemudian Dia memudahkan jalannya.” (QS. ‘Abasa [80]: 18-20)
Alloh عزّوجلّ juga berfirman;
إِنَّا
خَلَقْنَا الْإِنسَانَ مِن نُّطْفَةٍ أَمْشَاجٍ نَّبْتَلِيهِ فَجَعَلْنَاهُ
سَمِيعاً بَصِيراً
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia
dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah
dan larangan), karena itu Kami jadikan ia mendengar dan melihat.” (QS.
al-Insan [76]: 2)
Apabila kondisi manusia
seperti ini, mengapa ia sombong dan tidak tawadhu’?!
Imam Ibnu Hibban Asy-Sayfi’i mengatakan: “Bagaimana mungkin seseorang tidak
tawadhu’ padahal ia diciptakan dari setetes mani yang hina dan akhir hidupnya
ia akan kembali menjadi bangkai yang menjijikkan serta kehidupannya di dunia ia
membawa kotoran?”[16]
2. Kenalilah diri AndaAlloh
سبحانه و تعالي berfirman:
وَلاَ
تَمْشِ فِي الأَرْضِ مَرَحاً إِنَّكَ لَن تَخْرِقَ الأَرْضَ وَلَن تَبْلُغَ
الْجِبَالَ طُولاً
“Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini
dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi
dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.” (QS. al-Isro’
[17]: 37)
Syaikh Muhammad Amin
as-Syinqithi berkata: “Wahai orang yang
sombong, engkau adalah orang yang lemah, hina dan terbatas di dunia ini. Bumi
yang engkau berpijak di atasnya, engkau tidak bisa berbuat apapun walaupun
engkau injak dengan sekuat tenaga. Jangan angkuh, jangan berjalan di muka bumi
ini dengan sombong.” [17]
POTRET
TAWADHU’ RASULULLAH
Barangsiapa yang ingin membersihkan hatinya dari
sifat sombong dan ingin berhias dengan tawadhu’, maka hendaklah ia melihat suri
tauladan kaum muslimin yakni Rosululloh
Sungguh Alloh telah memuji dan
menyempurnakan akhlaknya.
Alloh berfirman:
وَإِنَّكَ
لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi
pekerti yang agung.” (QS. al-Qolam [68]: 4)
Di antara sifat tawadhu’
Rosululloh عزّوجلّ adalah:
Rosululloh bersabda:
لَا
تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتْ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ
فَقُولُوا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ
“Janganlah kalian berlebihan kepadaku
sebagaimana orang-orang Nasrani yang berlebihan kepada Isa bin Maryam. Aku
hanyalah seorang hamba. Katakanlah; hamba Alloh dan Rosul-Nya.” (HR.
Bukhori: 3445)
Aisyah berkata: “Rosululloh sangat perhatian dalam
membantu urusan keluarganya. Apabila telah tiba waktu sholat, beliau bergegas
pergi menuju sholat.” (HR. Bukhori: 676)
Rosululloh bersabda: “Aku
makan sebagaimana makannya seorang hamba, dan aku duduk sebagaimana duduknya
seorang hamba.”[18]
Rosululloh melewati sekumpulan
anak kecil, kemudian beliau mengucapkan salam kepada mereka. (HR.Bukhori: 6247,
Muslim: 2168)
Rosululloh menjahit sandalnya,
menambal bajunya, memeras susu ternak untuk keluarganya dan memberi makan unta.
Beliau makan bersama pembantunya dan mengundang orang-orang miskin. Berjalan
bersama para janda dan anak-anak yatim untuk memenuhi kebutuhan mereka. Beliau
memulai salam lebih dahulu jika bertemu orang lain dan beliau memenuhi undangan
orang yang mengundangnya sekalipun dalam sesuatu undangan yang ringan.[19]
Abu Sa’id al-Khudri berkata:
“Cintailah orang-orang yang miskin karena aku mendengar Rosululloh bersabda
dalam do’anya: “Ya Alloh, hidupkanlah aku dalam keadaan miskin, wafatkanlah
aku dalam keadaaan miskin dan masukkanlah aku bersama orang-orang yang miskin
pada hari kiamat.” [20]
Al-Hafizh Ibnu Rojab mengatakan: “Yang dimaksud
dengan miskin dalam hadits ini adalah orang yang di dalam hatinya ada rasa
tenang, tunduk dan khusyu’ kepada Alloh عزّوجلّ.[21]
MUTIARA
SALAF SEPUTAR TAWADHU’
- Sahabat
mulia Abu Bakr as-Shiddiq berkata: “Kami mendapati kemuliaan dalam
ketakwaan, kecukupan dalam keyakinan dan kehormatan dalam tawadhu’.” [22]
- Ummul
Mukminin Aisyah berkata: “Kalian telah melupakan ibadah yang paling afdhol
yaitu tawadhu’.”[23]
- Fudhail
bin Iyadh pernah ditanya tentang tawadhu’, beliau menjawab: “Tawadhu’
adalah engkau tunduk terhadap kebenaran, mengamalkan dan menerimanya dari
orang yang mengucapkannya. Sekalipun mendengarnya dari seorang anak kecil
maka ia akan menerimanya atau walaupun mendengarnya dari manusia yang
paling bodoh maka ia akan tetap menerimanya.” [24]
- ‘Urwah
bin Wardi berkata: “Tawadhu’ adalah salah satu tujuan kemuliaan. Setiap
nikmat pasti ada yang hasad kecuali tawadhu’.” [25]
- Ibrohim
bin Adham berkata: “Tidak pantas bagi seseorang untuk merendahkan dirinya
di bawah kedudukannya. Dan janganlah dia mengangkat dirinya di atas
kedudukannya”.[26]
Demikian indahnya sifat
tawadhu’. Ya Alloh, tunjukilah kami agar bisa berhias dengan akhlak yang mulia
dan jauhkanlah kami dari sifat yang tercela. Amiin. Alloh A’lam
·
Disampaikan pada pertemuan rutin Pokjaluh tgl 14
Desember 2016
Daftar
Pustaka
- Mu’jam Maqoyis
al-Lughoh hlm.1055, Ibnu Faris, al-Mufrodaat hlm.540,
al-Ashfahani
- Madarij as-Salikin
2/379, Ibnul Qoyyim, Fathul Bari 11/341, Ibnu Hajar
- Yaitu pakaian yang bagus
dan mahal.
- Maksudnya bukan karena
ingin dikatakan dia adalah orang yang tawadhu’, zuhud atau lainnya. (Tuhfatul
Ahwadzi 7/154, Mubarok Fury)
- HR. Tirmidzi: 2481, Ahmad
3/439, Hakim 4/183, Abu Nu’aim dalam al-Hilyah 8/48 dll. Hadits
ini dinyatakan hasan oleh Syaikh al-Albani dalam ash-Shohihah
no.718
- Syarah Riyadhus
Sholihin 3/515
- Fathul Qodir
4/301, Syaukani
- Madarijus Salikin
2/375, Ibnul Qoyyim, Tahqiq: Amir Ali Yasin
- Yang dimaksud kampung
akhirat di sini ialah kebahagiaan dan kenikmatan di akhirat
- Maksudnya: surga
- Syarah Shohih Muslim
16/143
- Roudhotul Uqola
hlm.59, Ibnu Hibban, Nadhrotun Na’im 4/1256-1257, Nahwa
Akhlaq as-Salaf hlm.153, Salim al-Hilali, Aina Nahnu Min
Haulaa hlm.127, Abdul Malik al-Qosim
- Madarij as-Salikin
2/383-388, Ibnul Qoyyim
- Ar-Ruuh hlm.273,
Ibnul Qoyyim
- Mukhtashor Minhajul
Qoshidin hlm.298, Tahqiq: Ali Hasan Ali Abdul Hamid
- Roudhotul Uqolaa
hlm.61
- Adhwaaul Bayan
3/592
- HR. Baghowi dalam Syarhus
Sunnah 13/248. Dicantumkan oleh Syaikh al-Albani dalam as-Shohihah:
544
- Madarij as-Salikin
2/377-378
- HR.Tirmidzi: 2352, Ibnu
Majah: 4126. Hadits ini dinyatakan hasan oleh syaikh al-Albani dalam as-Shohihah:
308, al-Irwaa: 861
- Adz-Dzul Wal Inkisar
Lil Azizil Jabbar, termuat dalam Majmu’ Rosail al-Hafizh Ibnu
Rojab al-Hanbali 1/309.
- lhya’ Ulumuddin
3/343, al-Ghozali
- Az-Zuhud 2/463,
Imam al-Waki’
- Madarij as-Salikin
2/379
- lhya Ulumuddin
3/343
- Syu’abul Iman
no.7874, al-Baihaqi. Lihat pula Nadhrotuu Na’im 4/1267-1268, Min
Akhbar as-Salaf hlm.247-252, Zakaria bin Ghulam al-Bakistani
[1]Ibnu Faris, Mu’jam Maqoyis al-Lughoh hal:1055,
Lihat Juga al-Ashfahani al-Mufrodaat
hlm.540,
[2] Ibnul Qoyyim, Madarij as-Salikin, Juz 2.
Hal:379, Lihat Juga , Ibnu Hajar , Fathul Bari 11/341, Ibnu Hajar
[3] Yaitu
pakaian yang bagus dan mahal
[4] Maksudnya bukan karena ingin dikatakan dia adalah
orang yang tawadhu’, zuhud atau lainnya. (Tuhfatul Ahwadzi 7/154,
Mubarok Fury)
[5] HR. Tirmidzi: 2481, Ahmad 3/439, Hakim 4/183, Abu
Nu’aim dalam al-Hilyah 8/48 dll. Hadits ini dinyatakan hasan oleh
Syaikh al-Albani dalam ash-Shohihah no.718
[6] Syarah Riyadhus Sholihin 3/515
[7] Syaukani
,Fathul Qodir Juz 4, Hal :301,
[8] Ibnul Qoyyim, Madarijus Salikin 2/375,
Tahqiq: Amir Ali Yasin
[9] Yang dimaksud kampung akhirat di sini ialah
kebahagiaan dan kenikmatan di akhirat
[10] Maksudnya: surga
[11] Syarah Shohih Muslim 16/143
[12] Roudhotul Uqola hlm.59, Ibnu Hibban, Nadhrotun
Na’im 4/1256-1257, Nahwa Akhlaq as-Salaf hlm.153, Salim
al-Hilali, Aina Nahnu Min Haulaa hlm.127, Abdul Malik al-Qosim
[13] Ibnul Qoyyim Madarij as-Salikin 2/383-388,
[14] Ibnul
Qoyyim Ar-Ruuh hlm.273,
[15]Ali
Hasan Ali Abdul Hamid ,Mukhtashor Minhajul Qoshidin hlm.298.
[16] Roudhotul Uqolaa hlm.61
[17] Adhwaaul
Bayan 3/592
[18] HR. Baghowi dalam Syarhus Sunnah 13/248.
Dicantumkan oleh Syaikh al-Albani dalam as-Shohihah: 544
[19] Madarij as-Salikin 2/377-378
[20] HR.Tirmidzi:
2352, Ibnu Majah: 4126. Hadits ini dinyatakan hasan oleh syaikh al-Albani dalam
as-Shohihah: 308, al-Irwaa: 861
[21] Adz-Dzul Wal Inkisar Lil Azizil Jabbar,
termuat dalam Majmu’ Rosail al-Hafizh Ibnu Rojab al-Hanbali 1/309.
[22] al-Ghozali lhya’ Ulumuddin 3/343.
[23]Imam al-Waki’ Az-Zuhud 2/463.
[24] Madarij
as-Salikin 2/379
[25] lhya Ulumuddin 3/343
[26] Syu’abul
Iman no.7874, al-Baihaqi. Lihat pula Nadhrotuu Na’im 4/1267-1268,
Min Akhbar as-Salaf hlm.247-252, Zakaria bin Ghulam al-Bakistani
Tidak ada komentar:
Posting Komentar