PUASA SEBAGAI MEDIA PELATIHAN DIRI *
Oleh :
Suharto, SHI, M.Pd.I
( Ketua Pokjaluh dan Penyuluh Agama Islam Fungsional
Kec. Banyuanyar )
1. Pendahuluan
Konsepsi
puasa dalam pemaknaan istilah seringkali dimaknai dalam pengertian sempit
sebagai suatu prosesi menahan lapar dan haus serta yang membatalkan puasa yang
dilakukan pada bulan ramadhan. Padahal hakekat puasa yang sebenarnya adalah
menahan diri untuk melakukan perbuatan yang dilarang oleh agama.
Selain
itu, puasa juga memberikan ilustrasi solidaritas muslim terhadap umat lain yang
berada pada kondisi hidup miskin. Dalam konteks ini, interaksi sosial dapat
digambarkan pada konsepsi lapar dan haus yang dampaknya akan memberikan kemungkinan
adanya tenggang rasa antar umat manusia.
Pengkajian tentang hakekat puasa ini dapat dikatakan
universal dan meliputi seluruh kehidupan manusia baik kesehatan, interaksi
sosial, keagamaan, ekonomi, budaya dan sebagainya. Begitu universal dan
kompleksnya makna puasa hendaknya menjadi acuan bagi muslim dalam
mengimplementasikannya pada kehidupan sehari-hari.
2. Pembahasan
a. Makna
Rhomadhan
1)
Ramadhan berarti " membakar
"Ramadhan, nama bulan ke-9 dalam kalender Islam , adalah kata Arab yang
berasal dari kata dasar " Ramda " . " Ramad " semakin panas
karena panas yang terus menerus dan tanah yang menjadi semakin panas sedemikian
rupa disebut " Ramda " . Jadi Ramadhan artinya " membakar "
, " untuk membakar karena berjalan telanjang kaki di tanah yang hangus
" .
2)
Alasan mengapa bulan suci ini
disebut " Ramadhan " adalah karena ia membakar dosa. Pada bulan
Ramadhan , seorang muslim yang berpuasa menahan panas karena kelaparan dan haus
dan panasnya puasa membakar dosa- dos. ( Elmalılı Hamdi Yazir )
3)
Ramadhan berarti " hujan
". Ramadhan berasal dari kata dasar " Ramadiyu " yang berarti
" hujan " yang terlihat pada akhir musim panas , pada awal musim
gugur dan membersihkan bumi dari debu . Seperti hujan yang mencuci permukaan
bumi , bulan Ramadhan mensucikan orang beriman dari dosa dan membersihkan hati
mereka . ( Elmalılı Hamdi Yazir )Didalam Al-Qur’an inilah terdapat sebuah
sebuah ayat yang mengharuskan dan menjelaskan umat Islam berpuasa saat bulan
Ramadhan yang tersurat dalam surat Al-Baqarah:183-188
4) Didalam Al-Qur’an inilah terdapat
sebuah sebuah ayat yang mengharuskan dan menjelaskan umat Islam berpuasa saat
bulan Ramadhan yang tersurat dalam surat Al-Baqarah:183-188
b. Makna Puasa
1)
Menurut Bahasa Arab, puasa berasal
dari kata shaum atau shiam.Dan Menurut Bahasa Indonesia, puasa artinya menahan
diri. Kata menahan diri terdiri dari beberapa arti, seperti menahan diri untuk
tidak makan dan minum serta tidak melakukan hubungan suami istri selama waktu
tertentu (siang hari ). Puasa sendiri dikenal oleh seluruh bangsa di dunia,
seperti Indonesia, Mesir kuno,Arab, dan masih banyak lagi. Puasa juga dilakukan
oleh hampir seluruh penganut agama, baik Katholik, Kristen, Hindhu ataupun
Budha. Mengapa demikian ? , Karena puasa dapat menyembuhkan berbagai penyakit
ringan sampai berat.
2)
Puasa menurut Islam lebih universal,
dan bukan hanya sekedar menahan diri dari makan dan minum, namun juga menahan
diri dari semua hal yang dilarang oleh Allah, seperti contoh bertahan dari
godaan maksiat dan menjauhi perbuatan keji, juga menjauhi perbuatan yang tidak
terpuji lahir dan batin. Puasa di bulan Ramadhan, merupakan bulan untuk
perenungan dan intropeksi mengenai perilaku diri, dan sekaligus mengakui
kelebihan dari orang lain. Oleh karena sedang berpuasa, maka mulut akan terjaga
dari kata-kata kotor, caci maki, mengumbar aib orang dan berusaha untuk tidak
menyakiti perasaan orang lain.
Umat Islam diwajibkan menjalani puasa sesuai dengan surah (Q.S.Al-Baqarah:183)
dengan penuh kesadaran dan ketulusan. Syarat paling penting dalam berpuasa
adalah Niat. Tanpa niat semua hal yang kita lakukan takkan berarti. Miat puasa
ini harus dilakukan dalam hati, karena percuma saja, jika kita berniat puasa
tetapi hati kita koaong. Maka dari itu, selain diucapkan dengan kata-kata, kita
harus berniat dalam lubuk hati yang paling dalam. Bulan Ramadhan adalah bulan
yang penuh berkah dari Allah. Setiap waktu luang yang ada selama menjalankan
puasa, dapat diisi dengan pertaubatan atas dosa dan kesalahan yang telah
diperbuat, banyak berdoa dan berzikir juga bersedekah kepada fakir miskin, dan
aktif dalam kegiatan keagamaan.
3) Sementara,puasa sendiri merupakan
suatu proses menjadi orang yang lebih bertakwa kepada Allah. Maka dari itu,
tidaklah benar bila kesempatan berpuasa sekali dalam setahun harus lewat begitu
saja, karena kesempatan di bulan ini sangat baik untuk memperkaya diri dengan
mencari pahala sebanyak-banyaknya.
c.
Hikmah Puasa Rhomadhan
1)
Melatih Disiplin Waktu — Untuk
menghasilkan puasa yang tetap fit dan kuat di siang hari, maka tubuh memerlukan
istirahat yang cukup, hal ini membuat kita tidur lebih teratur demi lancarnya
puasa. Bangun untuk makan sahur dipagi hari juga melatih kebiasaan untuk bangun
lebih pagi untuk mendapatkan rejeki (makanan).
2)
Keseimbangan dalam Hidup — Pada
hakikatnya kita adalah hamba Allah yang diperintahkan untuk beribadah. Namun
sayang hanya karena hal duniawi seperti pekerjaan, hawa nafsu dan lain-lain
kita sering melupakan kewajiban kita. Pada bulan puasa ini kita terlatih untuk
kembali mengingat dan melaksanakan seluruh kewajiban tersebut dengan imbalan
pahala yang dilipatgandakan.
3)
Mempererat Silaturahmi – Dalam Islam
ada persaudaraan sesama muslim, akan tampak jelas jika berada dibulan Ramadhan,
Orang memberikan tajil perbukaan puasa gratis. Sholat bersama di masjid,
memberi ilmu islam dan banyak ilmu Islam di setiap ceramah dan diskusi
keagamaan yang dilaksanakan di Masjid.
4)
Lebih Perduli Pada Sesama – Dalam
Islam ada persaudaraan sesama muslim, akan tampak jelas jika berada dibulan
Ramadhan, Orang memberikan tajil perbukaan puasa gratis. Sholat bersama di
masjid, memberi ilmu islam dan banyak ilmu Islam di setiap ceramah dan diskusi
keagamaan yang dilaksanakan di Masjid.
5)
Tahu Bahwa Ibadah Memiliki Tujuan –
Tujuan puasa adalah melatih diri kita agar dapat menghindari dosa-dosa di hari
yang lain di luar bulan Ramadhan. Kalau tujuan tercapai maka puasa berhasil.
Tapi jika tujuannya gagal maka puasa tidak ada arti apa-apa. Jadi kita terbiasa
berorientasi kepada tujuan dalam melakukan segala macam amal ibadah.
6)
Tiap Kegiatan Mulia Merupakan Ibadah
— Setiap langkah kaki menuju masjid ibadah, menolong orang ibadah, berbuat adil
pada manusia ibadah, tersenyum pada saudara ibadah, membuang duri di jalan
ibadah, sampai tidurnya orang puasa ibadah, sehingga segala sesuatu dapat
dijadikan ibadah. Sehingga kita terbiasa hidup dalam ibadah. Artinya semua
dapat bernilai ibadah.
7)
Berhati-hati Dalam Berbuat — Puasa
Ramadhan akan sempurna dan tidak sia-sia apabila selain menahan lapar dan haus
juga kita menghindari keharaman mata, telinga, perkataan dan perbuatan. atihan
ini menimbulkan kemajuan positif bagi kita jika diluar bulan Ramadhan kita juga
dapat menghindari hal-hal yang dapat menimbulkan dosa seperti bergunjing,
berkata kotor, berbohong, memandang yang dapat menimbulkan dosa, dan lain
sebagainya.
8)
Berlatih Lebih Tabah – Dalam
Puasa di bulan Ramadhan kita dibiasakan menahan yang tidak baik dilakukan.
Misalnya marah-marah, berburuk sangka, dan dianjurkan sifat Sabar atas segala
perbuatan orang lain kepada kita. Misalkan ada orang yang menggunjingkan kita,
atau mungkin meruncing pada Fitnah, tetapi kita tetap Sabar karena kita dalam
keadaan Puasa.
9)
Melatih Hidup Sederhana – Ketika
waktu berbuka puasa tiba, saat minum dan makan sedikit saja kita telah
merasakan nikmatnya makanan yang sedikit tersebut, pikiran kita untuk makan
banyak dan bermacam-macam sebetulnya hanya hawa nafsu saja.
10) Melatih Untuk Bersyukur – Dengan memakan hanya ada saat
berbuka, kita menjadi lebih mensykuri nikmat yang kita miliki saat tidak
berpuasa. Sehingga kita dapat menjadi pribadi yang lebih mensyukuri nikmat
Allah SWT.
d.
Tiga Fase Waktu dalam Rhomadhan
1) 10 Hari Pertama (Rohmat: Kasih sayang)
Sepuluh hari pertama di bulan Ramadhan adalah awal melelahkan dan ujian bagi
kesabaran dalam melaksanakn amalan yang sangat di cintai oleh Allah. Para ulama
memaknai sepuluh hari pertama bulan ramadhan sebagai Rahmat, yaitu terbukanya
pintu Rahmat Allah yang diberikan kepada hamba-hamba pilihan-Nya yang
menunaikan puasa.
Dalam
memahami rahmat Allah ini terkandung sifat Rahman dan Rahim. Sifat Rahman
dikaruniakan Allah kepada semua mahluk-Nya tanpa terkecuali dan diskriminasi.
Kedua Rahmat yang secara khusus diberikan kepada hambanya yang beriman atau
yang dipilihNya. Sepuluh hari pertama adalah merupakan keistimewaan karena
diturunkannya Rahmat kepada hamba-hamba yang telah ikhlas dan ridha menunaikan
puasa Ramadhan dengan penuh keimanan kepada Allah
Salah
satu Rahmat dan kasih sayang Allah Subhanahu wa Ta’ala yang diberikan kepada
hamba-hamba-Nya yang shaum dengan Iman dan taqwa yaitu disediakan salah satu
pintu masuk ke dalam surga yang tidak dilalui oleh siapapun kecuali paraahlipuasa
Rasulullah Saw bersabda: “Dari Sahal bin Sa’ad Radhiyallahu Anhu bahwa
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam Bersabda “Sesungguhnya di Surga ada
salah satu pintu yang dinamakan Rayyan; masuk dari pintu tersebut ahli
shaum/puasa di hari kiamat, tidak ada yang masuk dari pintu itu selain ahli
shaum, lalu diserukan “Manakah para ahli shaum?’,
Maka
berdirilah para ahli shaum dan tak ada seorangpun yang masuk dari pintu itu
kecuali mereka yang tergolong para ahli shaum, dan apabila mereka sudah masuk,
maka pintu surga tersebut segera tertutup, dan tak ada satupun yang
diperbolehkan masuk setelah mereka .”(H.R. Bukhari dan Muslim).
2) 10 Hari Kedua (Maghfiroh : Ampunan)
Dimana keutamaan puasa ramadhan fase kedua ini adalah Allah banyak memberikan
maghfirah atau ampunan. Inilah saat yang tepat bagi kita untuk meminta ampun
atas dosa-dosa kita denganmemperbanyak dzikir dan meminta ampunan, meminta agar
semua dosa-dosa kita dimaafkan dan diterima tobat kita. Tidak ada bulan-bulan
lain yang sebaik bulan ramadhan, maka itu janganlah kita menyiakannya, agar
kita tidak menjadi orang yang merugi
3).10
Hari ketiga (itqu min an-Nar : dibebaskan dari api neraka)
Pada 10 hari terakhir yang dipenuhibarokah yang berlimpah ruah. Terutama jika
kiat beribadah pada malam lailatul qadar. Sebuah ibadah yang dilakukan pada
malam itu dengan ikhlas dan sesuai dengan petunjuk Nabi Muhammad
Shalallahualaihiwa Sallam lebih baik daripada ibadah yang dilakukan selama
Seribubulan selain Ramadhan. Tentu keutamaan Puasa Ramadhan yang amat besar ini
akan membuat hati yang jernih dan akal yang sehat terdorong dan berharap untuk
dapat meraihnya.
Malam
lailatul qadar terjadi pada bulan Ramadhan, sekali dalam setahun. Rasulullah
Shalallahualaihi wa Sallam bersabda: “Carilah lailatul qadar pada sepuluh malam
terakhir bulan Ramadhan, jika ada diantara kalian lemah, maka jangan sampai
luput dari tujuh malam yang tersisa (terakhir).” (HR. Al-Bukhari
danMuslim)Dalam riwayat Al-Imam Muslim yang lain, Rasulullah Shalallahualaihiwa
Sallam bersabda: maka carilah pada malam yang ganjil dari sepuluh malam
terakhir bulan ramadhan. Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata dalam Fathul
Bari: “Pendapat yang paling kuat tentang terjadinya lailatul qadar adalah pada
malam ganjil dari sepuluh malam terakhir bulan ramadhan. Dan terjadinya tidak
menetap pada malam tertentu dalam setiap tahunnya.”
Adapun memastikan suatu malam dari bulan Ramadhan bahwa ia
adalah Malam lailatul qadar (di tahun tersebut), maka membutuhkan dalil (yang
shahih dan jelas) dalam penentuannya. Namun malam-malam ganjil pada sepuluh
terakhir itu hendaknya lebih dijaga dibanding selainnya, dan malam kedua puluh
tujuh hendaknya lebih dijaga lagi daripada malam-malam ganjil selainnya yang
dimungkinkan bertepatan dengan lailatul qadar (Lihat Fatawa Al-Lajnah
Ad-Da`imah li Al-Buhutswa Al-Ifta`)
3. Kesimpulan
dan Penutup
Menurut bahasa (etimologis) Shyam atau puasa berarti menahan
diri dan menurut syara’ (ajaran agama), puasa adalah menahan diri dari segala
yang membatalkanya dari mulai terbit fajar hingga terbenam matahari karena
Allah SWT semata-mata dan disertai niat dan syarat tertentu “.
Puasa adalah salah satu rukun islam, maka dari itu wajiblah bagi kita untuk
melaksanakan puasa dengan ikhlas tanpa paksaan dan mengharap imbalan dari orang
lain. Jika kita berpuasa dengan niat agar mendapat imbalan atau pujian dari
orang lain, maka puasa kita tidak ada artinya. Maksudnya ialah kita hanya
mendapatkan rasa lapar dan haus dan tidak mendapat pahala dari apa yang telah
kita kerjakan. Puasa ini hukumnya wajib bagi seluruh ummat islam sebagaimana
telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kita. Sebagaimana firman Allah swt
yang artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa
sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa”(Q.S
Al-Baqarah)
Berpuasalah sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang telah dibuat oleh Allah swt.
Allah telah memberikan kita banyak kemudahan(keringanan) untuk mengerjakan
ibadah puasa ini, jadi jika kita berpuasa sesuai dengan ketentuan-ketentuan
yang telah kami sebutkan diatas, kita sendiri akan merasakan betapa indahnya
berpuasa dan betapa banyak faidah dan manfaat yang kita dapatkan dari berpuasa
ini.
Maka dari itu saudara-saudari kami sekalian, janganlah sesekali meninggalkan
puasa, karena puasa ini mempunyai banyak nilai ibadah. Mulai dari langkah,
tidur dan apapun pekerjaan orang yang berpuasa itu adalah ibadah.
(*disampaikan pada Pertemuan Rutin Pokjaluh di Desa Sepohgembol Kecamatan Wonomerto, pada Hari Rabu, tanggal 14 Januari 2021.)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar