REAKTUALISASI
GERAKAN DAKWAH DI INDONESIA
Oleh :
SUHARTO, S.HI, M.Pd.I
(
Penyuluh Agama Islam Kec. Pakuniran ) *
Selayang Pandang Dakwah dan Realitas di Indonesia
Secara umum,
kondisi umat Islam di Indonesia yang telah 63 tahun merdeka, baik dari sisi
pemahaman Islam, komitmen pada ajaran Islam, mazhab (aliran) fiqih, pemikiran,
politik, tingkat pendidikan, kondisi ekonomi, kultur dan sebagainya sangat
hiterogen dan kompleks. Secara geografis, umat Islam Indonesia mendiamai
wilayah Nusantara yang sangat luas dan terdiri benyak sekali suku dan bahasa.
Tingkat pendidikan yang rendah, kondisi ekonomi yang marjinal, tintgkat
kepahaman terhadap Islam yang pas-pasan atau di bawah standard dan beragam
ditambah lagi dengan dominasi pemikaran sekularisme dan materialisme merupakan
akar persoalan yang mendasar.
Peningkatan
kualitas umat Islam Indonesia dalam berabgaai lapangan kehidupan sangatlah
terkait dengan perbaikan pendidikan, ekonomi dan perbaikan pemahaman keislaman
serta penanaman motivasi dan gairah untuk bekerja dan berjuang. Keberhasilan
Gerakan Dakwah Masa Depan terkait dengan sejauh mana kemampuan melakukan
perbaikan dalam bidang-bidnag tersebut. Sedangkan Payung yang paling tepat
untuk diusung dalam perbaikan-perbaikan tersebut tidak lain kecuali payung
Dakwah, karena pendekatannya fitrah-insaniyyah (sesuai dengan fitrah manusia),
universal dan jangkauannya komprehensif, seimbang, netral, ikhlas (tidak
bertujuan pada reward duniawi).
Agar tugas
Gerakan Dakwah Masa Depan dalam melakukan ish-lah (perbaikan) terhadap berbagai
persolan yang sedang dihadapi dan upaya peningkatan kualitas berbagai lapangan
kehidupan umat dapat terlaksana dengan baik dan maksimal perlu pemetaan yang
jelas dan tepat terhadap kondisi umat Islam Indonesia. Dengan demikian Gerakan
Dakwah Masa Depan bekerja ‘ala bayyinatin minal amr (atas dasar kejelasan
masalah). Akurasi dan efisiensi dalam kerja Dakwah (perbaikan dan peningkatan
berbagai lanpangan kehidupan umat) sangat terkait dengan pemahaman yang jelas
terhadap kondisi dan masalah yang dihadapi umat itu sendiri
Secara umum, kondisi umat Islam Indonesia saat
ini dapat dilukiskan sebagai berikut :
1.
Secara geografis, umat Islam Indonesia mendiami wilayah
kepulauan Nusantara yang membentang antara dua benua, Asia dan Australia dengan
luas wilayah 1.9 juta mil2 yang terdiri lebih dari 17.000 pulau dengan ratusan
suku dan bahasa.
2.
Jumlah umat Islam diperkirakan sekitar 85 % dari total
penduduk Indonesia yang mencapai 220 juta jiwa atau sekitar 187 juta.
3.
Background (latar belakang) keagamaan sebelum
kedatangan Islam adalah Hindu dan animisme.
4.
Backgroud politik dan sistem pemerintahan adalah
kerajaan-kerajaan, baik sebelum Islam maupun setelah kedatangan Islam.
5.
Sepanjang sejarahnya Indonesia adalah satu-satunya
wilayah Islam yang terbesar yang belum pernah menikmati sistem Islam secara
total atau sistem Khilafah Islamiyah.
6.
Fakta historisnya, pernah dijajah selama 350 tahun oleh
Belanda dan 3.5 tahun oleh Jepang. Nusantara adalah wilayah yang paling lama
terjajah dalam sejarah dunia Islam.
7.
Setelah merdeka dari jajahan Jepang 1945, berubah dan
bersatu dalam bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia.
8.
Dalam masyarakat Islam Indonesia masih terdapat berbagai
ragam kultur dan budaya peninggalan agama Hindu, khususnya di pulau Jawa.
seperti acara-acara keagamaan dalam pernikahan, kematian dan sebaginya,
animisme (khurafat dan kepercayaan-kepercayaan pada makhluk halus),
kerajaan-kerajaan dan peninggalan penjajahan Belanda veodalisme dan sebagainya.
Aneka ragam kultur dan buadaya tersebut masih mendominasi kehidupan sebagian
besaar umat Islam Indonesia, khususnya di pulau Jawa.
9.
Background politik pasca kemerdekaan ialah 21 tahun
(1945 – 1966) dalam pemerintahan Seakarno (Orde Lama) yang cenderung
sosialis-komunis, 32 tahun (1966-1998) dalam kendali dan genggaman Soeharto
(Orde Baru) yang otoriter, militeristik, kapitalis dan sekular. Sejak 1998
sampai sekarang (2008) dalam era reformasi dan demokrasi kacau balau yang telah
dipimpin empat orang Presiden yakni, Habibie, Gusdur, Megawati Soekarno Putri
dan Jendral Susilo Bambang Yudhoyono yang terkenal dengan sebutan “SBY’.
Pemerintahan SBY akan berakhir pertengahan 2009 mendatang.
10.
Kondisi pendidikan mayoritas Umat Islam adalah
berpendidikan rendah, bahkan banyak yang tidak tamat SD, khususnya yang tinggal
di pedesaan.
11.
Kondisi ekonomi mayoritas umat Islam sangat lemah di
mana mereka hidup di bawah garis kemiskinan. Tingkat kemiskinan semakin hari
semakin meningkat. Bahakn sudah menembus angka 100 juta orang yang pendapatan
harian mereka hanya sekitar Rp 5.000,-.
12.
Kondisi pemahaman keagaman sangat hiterogen, kendati
mazhab Imam Syafii’e yang menjadi panutan dalam Fiqih (Hukum) Islam dan
Ahlussunnah Wal-Jama’ah dalam masalah ‘Aqidah dan keimanan. Tariqat atau
Tasawuf sangat diminati dan mudah tersebar luas tanpa melihat apakah menyimpang
dari ajaran Islam atau tidak.
13.
Umat Islam Indonesia terpolarisasi ke dalam banyak
Ja’mah dan kelompok organisasi sosial keagamaan seperti Muhammadiyah, Nahdlatul
Ulama (NU), Dewan Dakwah Islam iyah Indonesia (DDII) Persatuan Islam (Persis),
Al-Irsyad (kelompok keturunan Arab), Persatuan Umat Islam (PUI), Al-Jam’iyyatul
Al-Washliyah dan lain sebaginya.
14.
Secara Gerakan Dakwah (Pergerakan Dakwah) umat Islam
Indonesia terpolarisasi kedalam banyak kelompok dan jama’ah seperti,
Hizbuttahrir Indonesia (HTI), Kelompok Tarbiyah/Ikhwanul Muslimin, Kelompok
Salafi, Majlis Mujahidin Indonesia (MMI), Front Pembela Islam (FPI),
Hidayatullah dan lain sebagainya.
PREDIKSI MASA
DEPAN GERAKAN DA'WAH DI INDONESIA
Masa depan Gerakan Dakwah di Indonesia diprediksikan akan
berkembang dan akan mendapat tempat dan sambutan yang luas dari masyarakat.
Belajar drai 28 tahun berdakwah dan berdasarkan perkembangan yang terjadi dalam
lapangan Gerakan Dakwah selama seperempat abad tersebut (1980 – 2008), maka
Gerakan Dakwah telah melahirkan nuansa baru dalam berislam di tengah-tengah
masyarakat Muslim Indonesia, khususnya di kota-kota besar di Jawa, Sumatera,
Kalimantan, Sulawesi dan sebagainya. Gerakan Dakwah juga telah melahirkan ruh
(spirit) baru dalam berislam dengan tema sentralany “Kembali kepada Islam
secara kaffah (menyeluruh)”.
Apa yang dilakukan oleh berbagai Gerakan Dakwah kontemporer
sejak lebih 25 tahun belakangan ini sesungguhnya merupakan mata rantai dari
Gerakan Dakwah sebelumnya seperti gerakan Hoscokroaminoto dengan Syarikat
Islamnya (……….), K.H. Amhad Dahlan dengan Muhammadiyahnya (1912), kemuidan
Hasyim Asy’ari dengan Nahdtalul Ulamanya (1926) dan dilanjutkan oleh M.Natsir
dengan Masyuminya di era 50an dan kemudian dengan Gerakan Dakwah iyah Indonesia
(DDII)-nya.
Gerakan Dakwah mengalami kevakuman sejak Masyumi dibubarkan
Orde Lama tahun 195….. Artinya, tumbuhnya Gerakan Dakwah yang mengususung
syumuliyyatul Islam (Islam Kaffah) dalam kurun waktu 28 tahun belakangan ini
tidak terlepas dari upaya-upaya pengembangan dan penegakakan ajaran-ajaran
Islam yang telah dilakuakn oleh berbagai Gerakan Dakwah puluhan tahun
sebelumnya sehingga tercipta situasi dan kondisi yang lumayan kondusif dalam
masyarakat Muslim,, khususnya generasi muda terpelajar di kota-kota besar untuk
menerima Islam secara Kaffah (sempurna dan komprehensif).
Kendati aktivitas Gerakan Dakwah tersebut juz-iyyah (partial)
namun sangat besar perannya dalam proses penyadaran umat terhadap Islam. Di
samping itu, ada satu hal yang menarik, bahwa prosese kebangkitan umat Islam
Indonesia, khususnya 28 tahun belakangan ini, terjadi secara mengagumkan
kendati di tengah tekanan dan poltik marjinalisasi pemerintahan Orde Baru
terhadap umat Islam selama 32 tahun.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan Gerakan Dakwah di
Indonesia akan mengalami perkembangan pesat jika saja para tokoh dan aktivisnya
mampu mendesain ulang Gerakan Dakwah mereka secara baik, yakni praktis,
menyentuh langsung kebutuhan hidup masyrakat, menjadi teladan dalam berbagai
lapangan kehidupan dan tidak memanipulasi Gerakan Dakwah untuk kepentingan para
pemimpin atau elitenya, cakupan dakwahnya komprehensif serta dikemas dengan
baik dan dipromosikan secara profesional. Di antarannya:
1. Proses
Islamisasi dalam berbagai lapangan kehidupan sudah bergulir seperti di bidang
ekonomi dan perbankan, misalanya telah lahir berbagai lembaga keuangan
Syaria’ah (bank dan non bank) secara formal dan telah diundangkan oleh Negara
Republik Indonesia seperti yang tertuang dalam Undang-Undang Perbangkan tahun
2002.
Di bidang politik lahirnya partai-partai Islam yang mendapat perlindungan
undang-undang negara, seperti undang-undang tentang Partai Politik 1999.
Di bidang pendidikan, lahirnya konsep pendidikan Islam dalam masyarakat
(swasta) yang mampu menjawab krisis pendidikan pemerintah (negeri).
Di bidang seni dan budaya tersebarnya di kalangan masnyarakat lagu-lagu Islam
(nasyid Islami) dan pakaian Muslimah yang 20 tahun lalu masih asing dan
dicemooh serta dilarang oleh bahyak kalangan masyarakat dan pemerintah Indonesia/
Dalam kehidupan sosial muncull kerinduan masyarakat tinngal di suatu kompleks
perumahan yang Islami. Di bidang media masa dan dunia bacaan tumbuhnya berbagai
majalah Islam, kendati masih terbatas, serta marakanya penyebaran buku-buku
Islam sehingga pameran buku-buku Islam lima tahun belakangan ini mengungguli
pameran buku-bukulainnya.
2. Nilai-nilai
Islam yang dipromosikan dan ditawarkan Gerakan Dakwah adalah sesuai dengan
fitrah manusia, universal, komprehensif, seimbang, pertengahan, praktis, realistis
dan mudah dipahamai dan diamalkan. Kendati gerakan sekularisasi selalu menuduh
sebagian ajwan Islam itu tidak universal, khususnya terkait wanita, politik,
pemerintahan, senidan budaya.
3. Masyarakat
Muslim Indonesia khususnya dan bangsa ini umunya telah gagal mewujudkan clean
government (pemerintahan yang bersih) sehingga gagal pula mewujudkan cita-cita
kemerdekaannya yankni mencipatakn sebuah negeri yang adil dan makmur dengan
syi’ar (slogan) baldatun thoyyibatun wa Robbun ghofur (sebuah negeri yang adil,
makmur dan mendapat ampunan dan rdho Allah Ta’ala).
Kegagalan tersebut sebagai akibat dari kegagalan pendidikan
dan kaderisasi sumber daya manusia (SDM) yang beriman dan berilmu karena belum
mampu keluar dari jaring dan jeratan sekularisme, kapitalisme dan materialisme
peninggalan penjajahan Belanda, plus pengaruh budaya Barat Moderen dan berbagai
tradisi peniggalan nenek moyang yang tidak logis dan tidak bersumber dari
petunjuk Allah yang lurus. Sebab itu, menimbulkan minat kuat sebagian besar
umat untuk kembali kepada ajaran Islam mereka yang hakiki.
Dengan tiga faktor tersebut, Gerakan Dakwah dengan visi,
missi dan tujuannya yang jelas, nilai-nilai fitriyah yang ditawarkan,
karekteristiknya yang unik, pilar-pilarnya yang kokoh, SDM-nya yang
berkualitas, dimenej dengan manajemen yang profesional, kepemimpinan yang smart
(smart leader) serta memiliki berbagai sarana yang memadai, insya Allah akan
memiliki peluang yang besar di masa yang akan datang.
*Disampaikan pada pertemuan rutin bulanan
Penyuluh Agama Islam di rumah Ibu sitrowati pada tanggal 06 Juli 2016.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar