Senin, 22 Maret 2021

REAKTUALISASI GERAKAN DAKWAH DI INDONESIA

 

REAKTUALISASI GERAKAN DAKWAH DI INDONESIA

Oleh :

SUHARTO, S.HI, M.Pd.I

( Penyuluh Agama Islam Kec. Pakuniran ) *

Selayang Pandang Dakwah dan  Realitas di Indonesia

Secara umum, kondisi umat Islam di Indonesia yang telah 63 tahun merdeka, baik dari sisi pemahaman Islam, komitmen pada ajaran Islam, mazhab (aliran) fiqih, pemikiran, politik, tingkat pendidikan, kondisi ekonomi, kultur dan sebagainya sangat hiterogen dan kompleks. Secara geografis, umat Islam Indonesia mendiamai wilayah Nusantara yang sangat luas dan terdiri benyak sekali suku dan bahasa. Tingkat pendidikan yang rendah, kondisi ekonomi yang marjinal, tintgkat kepahaman terhadap Islam yang pas-pasan atau di bawah standard dan beragam ditambah lagi dengan dominasi pemikaran sekularisme dan materialisme merupakan akar persoalan yang mendasar.

Peningkatan kualitas umat Islam Indonesia dalam berabgaai lapangan kehidupan sangatlah terkait dengan perbaikan pendidikan, ekonomi dan perbaikan pemahaman keislaman serta penanaman motivasi dan gairah untuk bekerja dan berjuang. Keberhasilan Gerakan Dakwah Masa Depan terkait dengan sejauh mana kemampuan melakukan perbaikan dalam bidang-bidnag tersebut. Sedangkan Payung yang paling tepat untuk diusung dalam perbaikan-perbaikan tersebut tidak lain kecuali payung Dakwah, karena pendekatannya fitrah-insaniyyah (sesuai dengan fitrah manusia), universal dan jangkauannya komprehensif, seimbang, netral, ikhlas (tidak bertujuan pada reward duniawi).

Agar tugas Gerakan Dakwah Masa Depan dalam melakukan ish-lah (perbaikan) terhadap berbagai persolan yang sedang dihadapi dan upaya peningkatan kualitas berbagai lapangan kehidupan umat dapat terlaksana dengan baik dan maksimal perlu pemetaan yang jelas dan tepat terhadap kondisi umat Islam Indonesia. Dengan demikian Gerakan Dakwah Masa Depan bekerja ‘ala bayyinatin minal amr (atas dasar kejelasan masalah). Akurasi dan efisiensi dalam kerja Dakwah (perbaikan dan peningkatan berbagai lanpangan kehidupan umat) sangat terkait dengan pemahaman yang jelas terhadap kondisi dan masalah yang dihadapi umat itu sendiri

 

 Secara umum, kondisi umat Islam Indonesia saat ini dapat dilukiskan sebagai berikut :

1.                       Secara geografis, umat Islam Indonesia mendiami wilayah kepulauan Nusantara yang membentang antara dua benua, Asia dan Australia dengan luas wilayah 1.9 juta mil2 yang terdiri lebih dari 17.000 pulau dengan ratusan suku dan bahasa.

2.                       Jumlah umat Islam diperkirakan sekitar 85 % dari total penduduk Indonesia yang mencapai 220 juta jiwa atau sekitar 187 juta.

3.                       Background (latar belakang) keagamaan sebelum kedatangan Islam adalah Hindu dan animisme.

4.                       Backgroud politik dan sistem pemerintahan adalah kerajaan-kerajaan, baik sebelum Islam maupun setelah kedatangan Islam.

5.                       Sepanjang sejarahnya Indonesia adalah satu-satunya wilayah Islam yang terbesar yang belum pernah menikmati sistem Islam secara total atau sistem Khilafah Islamiyah.

6.                       Fakta historisnya, pernah dijajah selama 350 tahun oleh Belanda dan 3.5 tahun oleh Jepang. Nusantara adalah wilayah yang paling lama terjajah dalam sejarah dunia Islam.

7.                       Setelah merdeka dari jajahan Jepang 1945, berubah dan bersatu dalam bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia.

8.                       Dalam masyarakat Islam Indonesia masih terdapat berbagai ragam kultur dan budaya peninggalan agama Hindu, khususnya di pulau Jawa. seperti acara-acara keagamaan dalam pernikahan, kematian dan sebaginya, animisme (khurafat dan kepercayaan-kepercayaan pada makhluk halus), kerajaan-kerajaan dan peninggalan penjajahan Belanda veodalisme dan sebagainya. Aneka ragam kultur dan buadaya tersebut masih mendominasi kehidupan sebagian besaar umat Islam Indonesia, khususnya di pulau Jawa.

9.                       Background politik pasca kemerdekaan ialah 21 tahun (1945 – 1966) dalam pemerintahan Seakarno (Orde Lama) yang cenderung sosialis-komunis, 32 tahun (1966-1998) dalam kendali dan genggaman Soeharto (Orde Baru) yang otoriter, militeristik, kapitalis dan sekular. Sejak 1998 sampai sekarang (2008) dalam era reformasi dan demokrasi kacau balau yang telah dipimpin empat orang Presiden yakni, Habibie, Gusdur, Megawati Soekarno Putri dan Jendral Susilo Bambang Yudhoyono yang terkenal dengan sebutan “SBY’. Pemerintahan SBY akan berakhir pertengahan 2009 mendatang.

10.                   Kondisi pendidikan mayoritas Umat Islam adalah berpendidikan rendah, bahkan banyak yang tidak tamat SD, khususnya yang tinggal di pedesaan.

11.                   Kondisi ekonomi mayoritas umat Islam sangat lemah di mana mereka hidup di bawah garis kemiskinan. Tingkat kemiskinan semakin hari semakin meningkat. Bahakn sudah menembus angka 100 juta orang yang pendapatan harian mereka hanya sekitar Rp 5.000,-.

12.                   Kondisi pemahaman keagaman sangat hiterogen, kendati mazhab Imam Syafii’e yang menjadi panutan dalam Fiqih (Hukum) Islam dan Ahlussunnah Wal-Jama’ah dalam masalah ‘Aqidah dan keimanan. Tariqat atau Tasawuf sangat diminati dan mudah tersebar luas tanpa melihat apakah menyimpang dari ajaran Islam atau tidak.

13.                   Umat Islam Indonesia terpolarisasi ke dalam banyak Ja’mah dan kelompok organisasi sosial keagamaan seperti Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama (NU), Dewan Dakwah Islam iyah Indonesia (DDII) Persatuan Islam (Persis), Al-Irsyad (kelompok keturunan Arab), Persatuan Umat Islam (PUI), Al-Jam’iyyatul Al-Washliyah dan lain sebaginya.

 

14.                   Secara Gerakan Dakwah (Pergerakan Dakwah) umat Islam Indonesia terpolarisasi kedalam banyak kelompok dan jama’ah seperti, Hizbuttahrir Indonesia (HTI), Kelompok Tarbiyah/Ikhwanul Muslimin, Kelompok Salafi, Majlis Mujahidin Indonesia (MMI), Front Pembela Islam (FPI), Hidayatullah dan lain sebagainya.

 

 

 



PREDIKSI MASA DEPAN GERAKAN DA'WAH DI INDONESIA

 

Masa depan Gerakan Dakwah di Indonesia diprediksikan akan berkembang dan akan mendapat tempat dan sambutan yang luas dari masyarakat. Belajar drai 28 tahun berdakwah dan berdasarkan perkembangan yang terjadi dalam lapangan Gerakan Dakwah selama seperempat abad tersebut (1980 – 2008), maka Gerakan Dakwah telah melahirkan nuansa baru dalam berislam di tengah-tengah masyarakat Muslim Indonesia, khususnya di kota-kota besar di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan sebagainya. Gerakan Dakwah juga telah melahirkan ruh (spirit) baru dalam berislam dengan tema sentralany “Kembali kepada Islam secara kaffah (menyeluruh)”.

Apa yang dilakukan oleh berbagai Gerakan Dakwah kontemporer sejak lebih 25 tahun belakangan ini sesungguhnya merupakan mata rantai dari Gerakan Dakwah sebelumnya seperti gerakan Hoscokroaminoto dengan Syarikat Islamnya (……….), K.H. Amhad Dahlan dengan Muhammadiyahnya (1912), kemuidan Hasyim Asy’ari dengan Nahdtalul Ulamanya (1926) dan dilanjutkan oleh M.Natsir dengan Masyuminya di era 50an dan kemudian dengan Gerakan Dakwah iyah Indonesia (DDII)-nya.

Gerakan Dakwah mengalami kevakuman sejak Masyumi dibubarkan Orde Lama tahun 195….. Artinya, tumbuhnya Gerakan Dakwah yang mengususung syumuliyyatul Islam (Islam Kaffah) dalam kurun waktu 28 tahun belakangan ini tidak terlepas dari upaya-upaya pengembangan dan penegakakan ajaran-ajaran Islam yang telah dilakuakn oleh berbagai Gerakan Dakwah puluhan tahun sebelumnya sehingga tercipta situasi dan kondisi yang lumayan kondusif dalam masyarakat Muslim,, khususnya generasi muda terpelajar di kota-kota besar untuk menerima Islam secara Kaffah (sempurna dan komprehensif).

Kendati aktivitas Gerakan Dakwah tersebut juz-iyyah (partial) namun sangat besar perannya dalam proses penyadaran umat terhadap Islam. Di samping itu, ada satu hal yang menarik, bahwa prosese kebangkitan umat Islam Indonesia, khususnya 28 tahun belakangan ini, terjadi secara mengagumkan kendati di tengah tekanan dan poltik marjinalisasi pemerintahan Orde Baru terhadap umat Islam selama 32 tahun.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan Gerakan Dakwah di Indonesia akan mengalami perkembangan pesat jika saja para tokoh dan aktivisnya mampu mendesain ulang Gerakan Dakwah mereka secara baik, yakni praktis, menyentuh langsung kebutuhan hidup masyrakat, menjadi teladan dalam berbagai lapangan kehidupan dan tidak memanipulasi Gerakan Dakwah untuk kepentingan para pemimpin atau elitenya, cakupan dakwahnya komprehensif serta dikemas dengan baik dan dipromosikan secara profesional. Di antarannya:

 

1.      Proses Islamisasi dalam berbagai lapangan kehidupan sudah bergulir seperti di bidang ekonomi dan perbankan, misalanya telah lahir berbagai lembaga keuangan Syaria’ah (bank dan non bank) secara formal dan telah diundangkan oleh Negara Republik Indonesia seperti yang tertuang dalam Undang-Undang Perbangkan tahun 2002.
Di bidang politik lahirnya partai-partai Islam yang mendapat perlindungan undang-undang negara, seperti undang-undang tentang Partai Politik 1999.
Di bidang pendidikan, lahirnya konsep pendidikan Islam dalam masyarakat (swasta) yang mampu menjawab krisis pendidikan pemerintah (negeri).
Di bidang seni dan budaya tersebarnya di kalangan masnyarakat lagu-lagu Islam (nasyid Islami) dan pakaian Muslimah yang 20 tahun lalu masih asing dan dicemooh serta dilarang oleh bahyak kalangan masyarakat dan pemerintah Indonesia/
Dalam kehidupan sosial muncull kerinduan masyarakat tinngal di suatu kompleks perumahan yang Islami. Di bidang media masa dan dunia bacaan tumbuhnya berbagai majalah Islam, kendati masih terbatas, serta marakanya penyebaran buku-buku Islam sehingga pameran buku-buku Islam lima tahun belakangan ini mengungguli pameran buku-bukulainnya.

 

2.      Nilai-nilai Islam yang dipromosikan dan ditawarkan Gerakan Dakwah adalah sesuai dengan fitrah manusia, universal, komprehensif, seimbang, pertengahan, praktis, realistis dan mudah dipahamai dan diamalkan. Kendati gerakan sekularisasi selalu menuduh sebagian ajwan Islam itu tidak universal, khususnya terkait wanita, politik, pemerintahan, senidan budaya.

 

3.      Masyarakat Muslim Indonesia khususnya dan bangsa ini umunya telah gagal mewujudkan clean government (pemerintahan yang bersih) sehingga gagal pula mewujudkan cita-cita kemerdekaannya yankni mencipatakn sebuah negeri yang adil dan makmur dengan syi’ar (slogan) baldatun thoyyibatun wa Robbun ghofur (sebuah negeri yang adil, makmur dan mendapat ampunan dan rdho Allah Ta’ala).

 

Kegagalan tersebut sebagai akibat dari kegagalan pendidikan dan kaderisasi sumber daya manusia (SDM) yang beriman dan berilmu karena belum mampu keluar dari jaring dan jeratan sekularisme, kapitalisme dan materialisme peninggalan penjajahan Belanda, plus pengaruh budaya Barat Moderen dan berbagai tradisi peniggalan nenek moyang yang tidak logis dan tidak bersumber dari petunjuk Allah yang lurus. Sebab itu, menimbulkan minat kuat sebagian besar umat untuk kembali kepada ajaran Islam mereka yang hakiki.

Dengan tiga faktor tersebut, Gerakan Dakwah dengan visi, missi dan tujuannya yang jelas, nilai-nilai fitriyah yang ditawarkan, karekteristiknya yang unik, pilar-pilarnya yang kokoh, SDM-nya yang berkualitas, dimenej dengan manajemen yang profesional, kepemimpinan yang smart (smart leader) serta memiliki berbagai sarana yang memadai, insya Allah akan memiliki peluang yang besar di masa yang akan datang.

*Disampaikan pada pertemuan rutin bulanan Penyuluh Agama Islam di rumah Ibu sitrowati pada tanggal 06 Juli 2016.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar