MENGIKIS FANATISME GOLONGAN
Oleh : SUHARTO,S.HI, M.Pd.I
( Penyuluh Agama Islam Kec. Banyuanyar. Kab. Probolinggo
) *
MUKODDIMAH
Fanatisme merupakan penyakit
kronis yang akan mematikan akal- akal manusia dan meruntuhkan dasar-dasar
berpikir. Bahkan dapat membunuh jiwa sekali pun.
Fanatisme merupakan bencana
pertama yang menimpa makhluk-makhluk. Iblis yang terlaknat yang merupakan
makhluk pertama yang bermaksiat kepada Allah, ternyata penyebab kemaksiatannya
adalah fanatisme golongan, ketika iblis mengatakan:
“Engkau menciptakan aku
dari api, sedangkan Engkau menciptakan dia dari tanah.” (Al A’raf 12).
Ucapan ini merupakan fanatisme
dan kesombongan terhadap jenisnya. Juga kaum Nuh dan umat-umat yang sesat yang
mendustakan para Rasul serta golongan-golongan dan aliran-aliran agama dari
kalangan Yahudi, Nashrani, Majusi dan kaum berhalaisme, tidaklah mereka
dibinasakan kecuali oleh penyakit kronis ini, na’udzubillah
Firqah-firqah sesat yang masih
mengaku sebagai muslimin dulu dan sekarang, juga sama. Mereka tertimpa penyakit
ini dalam aqidah dan ibadah mereka.
Kalau begitu, penyakit ini
sungguh mematikan. Mematikan pribadi-pribadi maupun kelompok- kelompok yang
mengajak untuk mendustakan para Rasul. Membawa mereka untuk berdusta dan
menyeleweng dengan menyebarkan kesesatan yang membinasakan, pemikiran-pemikiran
yang menyimpang. Maka wajib setiap kita meneliti secara pribadi atau pun
kelompok kemungkinan adanya penyakit ini, kemudian menghindarkannya, serta
melepaskan penyakit jelek yang terkutuk ini dari diri-diri kita.
Kita memohon kepada Allah
Subhanahu wa Ta’ala agar memaafkan umat Islam dan menyembuhkan mereka dari
penyakit yang mematikan ini dan semoga Allah menyatukan barisan mereka dan
kalimat mereka.
Sesungguhnya Islam adalah
agama yang haq yang diturunkan oleh Allah, penguasa yang haq, yang menciptakan
langit dan bumi dengan haq. Allah yang menurunkan kitab dengan haq dan
meletakkan timbangan. Allah yang memerangi kedhaliman dan musuh-musuh dan
penyelewengan dengan berbagai macam bentuknya. Dari berbagai macam sumbernya
yang semua itu atau hampir semuanya disebabkan oleh penyakit fanatisme ini.
Sesungguhnya fanatik terhadap
agama tertentu, suku-suku ataupun pribadi-pribadi tertentu, atau
madzhab-madzhab tertentu atau partai-partai tertentu, telah diperangi oleh Islam
dengan sekeras- kerasnya. Yang demikian ini, karena fanatisme yang dimurkai
tersebut adalah perkara yang terus mengalirkan bau busuk, merupakan sumber yang
jelek dari segala macam penyakit yang mematikan. Inilah faktor-faktor yang
mendorong partai-partai, golongan kafir yang dhalim untuk berdiri di depan para
rasul dan segenap risalah-risalah mereka untuk mendustakannya, menentangnya,
menuduhnya, membantahnya, melawannya dengan kebatilan.
“Tidaklah membantah
ayat-ayat Allah kecuali orang-orang kafir. Maka janganlah menipu kalian
bolak-baliknya mereka di negerinya. Telah mendustakan sebelum mereka kaum Nuh
dan umat setelahnya…” (Ghafir 4-5).
Apakah hujah (alasan) mereka
dalam menentang dan melawan para Rasul sepanjang sejarah? Jawabannya: Hampir
setiap umat berhujjah dengan hujjah yang sama yang merupakan tonggak setiap
orang dhalim yang lemah dan fanatik yaitu: sebagaimana Allah kisahkan tentang
kaum Nuh dalam surat Al-Mukminun 23-24.
“Dan sungguh telah Kami
utus Nuh kepada kaumnya, beliau berkata: Wahai kaumku, beribadahlah kepada
Allah, tidak ada bagi kalian sembahan kecuali Dia. Tidakkah kalian mau
bertakwa? Maka berkatalah kaumnya dari kalangan orang-orang kafir: Dia ini
tidak lain kecuali manusia biasa seperti kalian. Hanya saja dia ingin diunggulkan di atas kalian. Kalau
saja Allah kehendaki, tentu Dia akan menurunkan malaikat-malaikat. Sungguh kami
tidak pernah mendengar yang demikian dari bapak-bapak kami yang terdahulu.” (Al
Mu`minun: 23-24).
Inilah alasan mereka, yaitu
tidak datangnya kepada mereka apa yang dibawa oleh Nabi Nuh alaihis salam
melalui tokoh-tokoh pimpinan mereka. Seandainya al-haq itu datang kepada mereka
melalui tokoh-tokoh pimpinan mereka tentulah mereka menerimanya, akan tetapi
al-haq itu justru datang melalui orang lain. Itulah yang disebut fanatik. Allah
Ta’ala berfirman:
“Dan mereka menjadikan
malaikat-malaikat yang mereka itu adalah hamba-hamba Allah yang Maha Pemurah
sebagai orang-orang perempuan. Apakah mereka menyaksikan penciptaan
malaikat-malaikat itu? Kelak akan dituliskan persaksian mereka dan mereka akan
dimintai pertanggungjawaban. Dan mereka berkata: “Jikalau Allah yang Maha
Pemurah menghendaki tentulah kami tidak menyembah mereka (malaikat).” Mereka
tidak mempunyai pengetahuan sedikitpun tentang itu. Mereka tidak lain hanyalah
menduga-duga belaka. Atau adakah Kami memberikan sebuah kitab kepada mereka
sebelum Al-Qur`an, lalu mereka berpegang dengan kitab itu? Bahkan mereka
berkata: “Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama,
dan sesungguhnya kami orang-orang yang mendapat petunjuk dengan (mengikuti)
jejak mereka.” Dan demikianlah. Kami tidak mengutus sebelum kami seorang
pemberi peringatan pun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup
mewah di negeri itu berkata: “Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami
menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka.”
(Az-Zukhruf: 19-23)
Sikap fanatik terhadap para
tokoh pimpinan dan pengganti mereka walaupun padanya terdapat kejelekan dan
berkumpul di atasnya berbagai kesesatan dan kekufuran. Allah Ta’ala berfirman:
“Dan (Kami telah
mengutus) kepada penduduk Mad-yan, saudara mereka Syu’aib, maka ia berkata:
“Hai kaumku, sembahlah olehmu Allah. Harapkanlah (pahala) hari akhir, dan
jangan kamu berkeliaran di muka bumi membuat kerusakan.” Maka mereka
mendustakan Syu’aib, lalu mereka ditimpa gempa yang dahsyat, dan jadilah mereka
mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat-tempat tinggal mereka. Dan (juga)
kaum ‘Aad dan Tsamud. Dan sungguh telah nyata bagi kamu (kehancuran mereka)
dari (puing-puing) tempat tinggal mereka. Dan
syaithan menjadikan mereka memandang baik perbuatan-perbuatan mereka, lalu
menghalangi mereka dari jalan (Allah). Sedangkan mereka adalah orang-orang
berpandangan tajam. Dan (juga) Karun, Fir’aun dan Haman. Dan sesungguhnya telah
datang kepada mereka Musa dengan (membawa bukti- bukti) keterangan-keterangan
yang nyata. Akan tetapi mereka berlaku sombong di (muka) bumi, dan tiadalah
mereka orang-orang yang luput (dari kehancuran itu). Maka masing-masing (mereka
itu) Kami siksa disebabkan dosanya. Maka di antara mereka ada yang Kami
timpakan kepadanya hujan batu dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras
yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan
di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak
menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.”
(Al-Ankabut: 36-40)
Dampak dari sifat Fanatisme
Dengan keterangan di atas,
maka apakah sesungguhnya akibat fanatisme, taklid, penentangan dan kebohongan?
Sesungguhnya Allah Jalla wa
‘Ala telah menyebutkan berbagai akibat buruk segala kejelekan tersebut dalam
beberapa surat dan kisah-kisah yang banyak di dalam Al-Quranul Karim agar ummat
ini dapat mengambil pelajaran berharga dari akibat dan kehancuran yang dialami
ummat- ummat sebelumnya. Dan agar ummat ini benar-benar waspada jangan sampai
terjatuh ke dalam perkara yang ummat terdahulu juga terjatuh padanya, sehingga
mereka akan menerima akibat yang sama seperti orang-orang terdahulu. (Padahal)
sunnah Allah yang berlaku pada hamba- hamba-Nya tidak akan berubah dan
berganti, sebagai bukti keadilan dan hikmah Allah, dan Dia Maha Mengetahui lagi
Maha Mempunyai Hikmah, Hakim Yang Maha Adil.
Allah Ta’ala berfirman dalam
surat Al-’Ankabut sesudah menyebutkan kisah Nabi Nuh ‘alaihissalam dan kaumnya,
Nabi Ibrahim bersama kaumnya dan kisah Nabi Luth dengan kaumnya. Kisah-kisah
tersebut mengandung berita tentang kehancuran ummat-ummat yang mendustakan
agama Allah, fanatik terhadap para pimpinan mereka dan menentang dakwah yang
haq yang datang kepada mereka. Perhatikan firman Allah Ta’ala di dalam surat
Al-’Ankabut 36-40 di atas.
Inilah akibat fanatisme di
dunia, kebinasaan dan kehancuran, wal ‘iyadzu billah. Bencana- bencana yang
menimpa umat-umat yang tersebut di ayat tadi dalam surat Al-Ankabut. Mereka
seluruhnya mendapatkan akibat yang sama yaitu berakhir dengan bencana dan
malapetaka. Wal iyadzu billah.
Adapun akibat-akibat fanatisme dan penentangan di akhirat adalah sebagai
berikut:
a.
Pertikaian mereka yang fanatik terhadap tokoh-tokohnya
dan antara mereka.
Allah kisahkan tentang
mereka dalam surat Saba` ayat 31-33:
“Dan orang-orang kafir
berkata: “Kami sekali-kali tidak akan beriman kepada Al-Qur`an ini dan tidak
(pula) kepada kitab sebelumnya.” Dan (alangkah hebatnya) kalau kamu lihat
ketika orang- orang yang dhalim itu dihadapkan kepada Tuhannya, sebagian mereka
menghadapkan perkataan kepada sebagian yang lain; orang-orang yang dianggap
lemah berkata kepada orang- orang yang menyombongkan diri: “Kalau tidaklah
karena kamu tentulah kami menjadi orang- orang yang beriman.” Orang-orang yang
menyombongkan diri berkata kepada orang-orang yang dianggap lemah: “Kamikah
yang telah menghalangi kamu dari petunjuk sesudah petunjuk itu datang kepadamu?
(Tidak), sebenarnya kamu sendirilah orang-orang yang berdosa.” Dan orang- orang
yang dianggap lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri:
“(Tidak) sebenarnya tipu daya (mu) di waktu malam dan siang (yang menghalangi
kami), ketika kamu menyeru kami supaya kami kafir kepada Allah dan menjadikan
sekutu-sekutu bagi-Nya.” Kedua belah pihak menyatakan penyesalan tatkala mereka
melihat adzab, dan Kami pasang belenggu di leher orang-orang kafir. Mereka
tidak dibalas melainkan dengan apa yang telah mereka kerjakan.”
Mereka inilah korban-korban
fanatik buta dan taqlid serta mengekor hawa nafsu. Allah berfirman dalam ayat
lain surat Ghafir ayat 47-48:
“Dan ingatlah ketika
mereka berbantah-bantahan dalam neraka, maka orang-orang yang lemah berkata
kepada orang-orang yang menyombongkan diri, sesungguhnya kami adalah pengikut-
pengikutmu, maka dapatkah kamu menghindarkan dari kami sebagian adzab api
neraka, berkatalah orang-orang yang menyombongkan diri “Sesungguhnya kita semua
sama-sama dalam neraka” karena sesungguhnya Allah telah menetapkan keputusan
antara hamba-hamba-Nya.”
Dan dalam surat Al-Baqarah ayat
165-167:
“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah
tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka
mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada
Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat dhalim itu mengetahui
ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan
Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka
menyesal). (Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti berlepas diri dari
orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa; dan (ketika) segala
hubungan antara mereka terputus sama sekali. Dan berkatalah orang- orang yang
mengikuti: “Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas
diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami.” Demikianlah
Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi
mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api neraka.”
Juga firman Allah Ta’ala dalam surat Al-Ahzab 64-68:
“Sesungguhnya Allah
melaknati orang-orang kafir dan menyediakan bagi mereka api yang menyala-nyala
(neraka). Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; mereka tidak memperoleh
seorang pelindung pun dan tidak (pula) seorang penolong. Pada hari ketika muka
mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata: “Alangkah baiknya,
andaikata kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul.” Dan mereka
berkata: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah mentaati pemimpin-pemimpin dan
pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar).
Ya Tuhan kami, berilah kepada mereka adzab dua kali lipat dan kutuklah mereka
dengan kutukan yang besar.”
Inilah dia, akhir dari
perjalanan orang-orang kafir yang sesat yang telah dibawa oleh fanatisme golongan
untuk mendustakan para Rasul dan membawa kepada penentangan serta peperangan,
bahkan kepada seluruh kesulitan-kesulitan yang mereka arahkan terhadap para
Rasul. Maka akhir dari perjalanan mereka di hari kiamat adalah saling melaknat
sesama mereka dan masing- masing kelompok baik dari kalangan pengikut maupun
yang diikuti, berharap agar Allah melipat gandakan adzab bagi kelompok
shahabatnya, kekasihnya dan yang (dahulu) dicintainya. Padahal mereka di dunia
saling mendukung dan saling membela dosa sesama kelompoknya dalam melawan
kebenara. Inilah akhir mereka yang amat memilukan. Sungguh sangat disayangkan.
Ketahuilah bagi setiap orang
yang fanatik terhadap kelompok atau pribadi, sama saja apakah masih mengaku
Islam atau pun tidak, akan mendapatkan bagian dari adzab ini dan bagian dari
celaan ini. Mereka akan saling membantah dan menuduh kemudian masing-masingnya
berharap, kalau saja ia mengikuti jalan Rasul. Allah Ta’ala berfirman:
“[27] Dan (ingatlah) hari
(ketika itu) orang yang dhalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: “Aduhai
kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul. [28] Kecelakaan besarlah
bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadi si fulan itu teman akrab(ku). [29]
Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al-Qur`an sesudah Al-Qur`an itu
telah datang kepadaku. Dan adalah syaithan itu tidak mau menolong manusia.”
(Al-Furqan: 27-29).
Dan Allah Ta’ala berfirman:
“Dan mereka semuanya (di
padang mahsyar) akan berkumpul menghadap ke hadirat Allah, lalu berkatalah
orang-orang yang lemah kepada orang-orang yang sombong: “Sesungguhnya kami
dahulu adalah pengikut-pengikutmu, maka dapatkah kamu menghindarkan daripada
kami adzab Allah (walaupun) sedikit saja?” Mereka menjawab: “Seandainya Allah
memberi petunjuk kepada kami, niscaya kami dapat memberi petunjuk kepadamu. Sama saja bagi kita, apakah kita mengeluh ataukah
bersabar, sekali-kali kita tidak mempunyai tempat untuk melarikan diri.”
(Ibrahim: 21)
Mereka tidak akan mencukupi
pengikutnya sedikit pun, tidak sesaat, apalagi kurang dari itu. Bahkan tidak
pula memberikan sedikit keringanan dari adzab Allah. Apakah Fir’aun dapat
memberikan sesuatu pada pengikutnya?! Apakah Abu Jahl dapat membela pengikutnya?!
Apakah Namrud dapat mencukupi pengikutnya?! Apakah tokoh-tokoh sesat penganjur
kesesatan, apakah dapat mereka membela pengikutnya sedikit saja?! Tidak!!!
Inilah pertikaian yang Allah
kisahkan antara para pengikut dengan ikutannya.Pertikaian antara yang menyembah
dan yang disembah.
Allah Ta’ala berfirman:
berkatalah syaithan
tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan: “Sesungguhnya Allah telah
menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan aku pun telah menjanjikan kepadamu
tetapi aku menyalahinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu,
melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab
itu janganlah kamu mencerca aku, akan tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku
sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamu pun sekali- kali tidak dapat
menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku
(dengan Allah) sejak dulu.” Sesungguhnya orang-orang yang dhalim itu mendapat
siksaan yang pedih.” (Ibrahim: 22).
Inilah akhir dari hubungan
antara setan dan manusia. Setan yang telah menyesatkan mereka dari awal sampai
akhirnya. Kecuali orang-orang yang Allah selamatkan dari jaring-jaringnya,
yaitu hamba-hamba-Nya yang ikhlas.
Dikatakan, bahwa di saat itu
setan berdiri, berkhutbah di hadapan mereka dengan ucapan ini. Dia berlepas
diri dari mereka dan mereka pun berlepas diri darinya. Maka mereka meminta
tolong, tapi setan-setan itu tidak dapat membelanya. Dan ia pun tidak mendapati
seorang penolong pun dari mereka.
Allah Ta’ala berfirman:
“Dan (ingatlah) hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka semuanya
kemudian Allah berfirman kepada malaikat:
“Apakah mereka ini dahulu menyembah kamu?” Malaikat-malaikat itu menjawab:
“Maha suci Engkau. Engkaulah pelindung kami, bukan mereka; bahkan mereka telah
menyembah jin; kebanyakan mereka beriman kepada jin itu.” Maka padi hari ini
sebagian kamu tidak berkuasa (untuk memberikan) kemanfaatan dan tidak pula
kemudlaratan kepada sebagian yang lain. Dan Kami katakan kepada orang-orang
yang dhalim: “Rasakanlah olehmu adzab neraka yang dahulunya kamu dustakan itu.”
(Saba`: 40-42)
Para malaikat yang
diibadahi selain Allah pun berlepas diri (akan tetapi mereka terjaga, tidak
akan berbuat demikian, yakni tidak rela diibadahi), hanya saja setanlah yang
telah menyesatkan manusia, ia menghiasi pandangan manusia tentang baiknya
beribadah kepada para malaikat tersebut, dengan mengatakan kepada manusia:
“Sesungguhnya para malaikat itu adalah anak- anak perempuan Allah (Maha Suci
Allah dari yang mereka sifatkan, pent), dan mereka juga berhak untuk
diibadahi.” Akhirnya mereka mendirikan buat para malaikat itu monumen-monumen
dan simbol-simbol lalu mengibadahinya, apakah peribadatan seperti ini merupakan
peribadatan kepada malaikat? Tidak, sama sekali tidak!! Maka laknat Allah-lah
bagi mereka yang berbuat dusta dan kedhaliman.
Allah Ta’ala berfirman:
“Dan
(ingatlah) hari (di waktu) Allah menyeru mereka seraya berkata: “Di manakah
sekutu- sekutu-Ku yang dahulu kalian katakan?” Berkatalah orang-orang yang
telah tetap hukuman atas mereka: “Ya Tuhan kami, mereka inilah orang-orang yang
kami sesatkan itu; kami telah menyesatkan mereka sebagaimana kami (sendiri)
sesat. Kami menyatakan berlepas diri (dari mereka) kepada Engkau, mereka
sekali-kali tidak menyembah kami.” Dikatakan (kepada mereka): “Serulah olehmu
sekutu-sekutu kamu”, lalu mereka menyerunya, maka sekutu-sekutu itu tidak
memperkenankan (seruan) mereka, dan mereka melihat adzab. (Mereka itu
berkeinginan) kiranya mereka dahulu menerima petunjuk.” (Al-Qashash: 62-64)
Yakni, mereka berangan-angan seandainya
dahulu mereka berjalan di atas petunjuk; ini tentu saja merupakan akhir yang
sangat menyakitkan, bencana dan malapetaka yang sangat besar bagi fanatisme dan
taklid buta, semua itu sekaligus merupakan peringatan bagi ummat Islam agar
menyelamatkan dirinya dari kejahatan yang merata dimana-mana dan musibah yang
membinasakan.
Allah Tabaraka wa Ta’ala memaparkan
kepada kita kisah-kisah tersebut agar kita dapat mengambil pelajaran berharga
dari kisah itu; seperti kisah para Nabi dengan ummat mereka, dan keterangan
tentang pertentangan antara mereka. Semua itu diceritakan kepada kita agar kita
mengambil pelajaran dari kisah tersebut sekaligus nasehat dan peringatan agar
jangan sampai kita terjatuh ke dalam jurang berbahaya yang ummat-ummat sebelum
kita terjatuh ke dalamnya lalu binasa. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh
Allah Ta’ala:
“Dan semua
kisah dari Rasul-Rasul yang Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang
dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu
kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.” (Hud:
120).
Adakah ummat ini mengambil faedah dari
adzab yang menimpa umat yang dhalim dahulu?
Akan tetapi, sangat disayangkan bahwa
sesungguhnya kebanyakan ummat ini justru terjatuh ke dalam penyakit fanatisme
dan taklid buta baik dalam akidah, ibadah, politik, akhlak maupun adat
istiadat. Seolah-olah Al-Qur`an itu tidak mencukupi mereka dalam perkara yang
dekat maupun yang jauh. Bahkan mereka anggap seolah-olah Al-Qur`an itu tidak
pernah mengajak mereka berdialog, tidak membuka penglihatan mereka, bahkan
tidak pula memperingatkan mereka ketika menyebutkan kejelekan-kejelekan
umat-umat sebelumnya, baik akidah maupun akhlak mereka. Dan apabila telah jelas
bagaimana hal-hal tersebut menjadi sebab kehancuran ummat tersebut dan
kebinasaan mereka di dunia, serta sebab kesengsaraan abadi bagi mereka juga
adzab yang dahsyat yang kekal di akhirat. Maka kamu lihat mereka melakukan
segala kejelekan tanpa perduli, takut, apalagi malu terhadap siapapun.
Betapa banyak peringatan yang
datang kepada mereka, dan betapa banyak musibah yang menimpa mereka. Namun
mereka tidak mengambil pelajaran, bimbingan dan nasehat yang dapat mendorong
mereka untuk kembali kepada Allah, lalu berpegang kepada Kitab Allah dan Sunnah
Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam; menjauhi perbuatan-perbuatan dan akidah
yang rusak tersebut, serta menjauhi sikap fanatisme yang mencabik-cabik mereka
dengan sejelek-jeleknya dan menyebabkan orang-orang kafir berkuasa atas mereka
dalam bidang apapun. Dan sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah
memberitakan kepada kita hal-hal yang akan membinasakan sebagian besar umat
ini, yakni bahwa umat ini akan mengikuti sunnah-sunnah (jalan hidup dan
prinsip) ummat-ummat sebelumnya seperti bulu anak panah dimana lembar yang satu
mengikuti yang lainnya. Inna lillahi wa
inna ilaihi raji’un.
Umat ini mengikuti sunnah
umat sebelumnya
Dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu,
ia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Tidaklah akan
terjadi hari kiamat sampai umatku mengambil apa-apa yang diambil oleh orang-
orang sebelumnya sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta.” (HSR. Bukhari
7319).
Dari Abu Sa’id Al-Khudri radliyallahu
‘anhu, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Sungguh kalian
akan benar-benar mengikuti sunnah-sunnah orang-orang sebelum kalian, sejengkal
demi sejengkal, sehasta demi sehasta, hingga seandainya mereka masuk ke lubang
biawak, niscaya kalian pun benar-benar akan memasukinya pula. Para shahabat
berkata: “Wahai Rasulullah, (apakah mereka itu) orang Yahudi dan Nashara?”
Rasulullah bersabda lagi: “Siapa lagi (kalau bukan mereka)?” (HSR. Bukhari
7220, dan Muslim 2669).
Dari Abu Waqid Al-Laitsi radliyallahu
‘anhu, ia berkata: Kami keluar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
menuju Hunain, sedangkan kami waktu itu baru saja lepas dari kekafiran (baru
masuk Islam, pent). Dan waktu itu, orang-orang musyrikin mempunyai sebuah pohon
sidr (bidara, red) yang mereka selalu i’tikaf (beribadah) dan menggantungkan
senjata- senjata mereka di pohon tersebut. Pohon tersebut dinamakan Dzatu
Anwath. Kami pun melintas di dekat pohon itu dan berkata: “Wahai Rasulullah,
buatkanlah untuk kami Dzatu Anwath sebagaimana halnya kaum musyrikin juga
mempunyai Dzatu Anwath.” Maka beliau bersabda:
“Allahu Akbar (Allah Maha
Besar). Sungguh ini adalah sunnah-sunnah, yang kalian ucapkan ini. Demi Zat
yang jiwaku di Tangan-Nya, sebagaimana yang diucapkan oleh Bani Israil kepada
Musa: Buatkanlah untuk kami sesembahan sebagaimana mereka juga mempunyai
sesembahan, (lalu Nabi Musa) berkata: “Sesungguhnya kalian orang-orang yang
bodoh.” Sungguh, kalian benar-benar akan mengikuti sunnah orang-orang sebelum
kalian.” (HSR. Ahmad, At-Tirmidzi dan beliau menshahihkannya, dan lain-lain,
lihat Shahih Sunan At-Tirmidzi 2285).
·
Disampaikan pada pertemuan penyuluh Agama Islam pada Tanggal
11 Maret 2021
Tidak ada komentar:
Posting Komentar